Israel–Iran Masih Panas: Ancaman Balasan, Serangan Nuklir, dan Upaya Damai Bayangan
Ketegangan antara Israel dan Iran kembali memuncak usai serangkaian pernyataan provokatif, ancaman serangan militer, dan manuver diplomatik rahasia dari Amerika Serikat. Konflik yang telah menewaskan ribuan orang selama "Perang 12 Hari" tampaknya belum benar-benar berakhir, meski senjata berhenti berbunyi untuk sementara.
Pejabat pertahanan Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah bersiap meluncurkan serangan lanjutan terhadap fasilitas nuklir Iran, bila Teheran melanjutkan program pengayaan uranium yang kini sudah mencapai level 60%. Pemerintah Israel menyebut ini sebagai “garis merah”.
Presiden AS Donald Trump disebut telah memberi "lampu hijau diam-diam" untuk aksi militer tambahan terhadap Iran. Dalam konferensi pers, Trump memperingatkan bahwa jika Iran kembali menantang stabilitas regional, AS tidak akan ragu untuk bertindak cepat dan tegas.
Dalam wawancaranya dengan media internasional, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Israel telah berusaha membunuhnya melalui serangan udara rahasia selama konflik beberapa minggu lalu. Meski serangan itu gagal, ia menyebut hal tersebut sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional".
Namun secara mengejutkan, Pezeshkian juga membuka pintu untuk dialog nuklir terbatas dengan AS, dengan syarat Washington mengakui hak nuklir sipil Iran dan mencabut sanksi tertentu.
Sumber dari Gedung Putih mengungkap bahwa AS tengah menjajaki pertemuan rahasia antara utusan khusus Steve Witkoff dengan diplomat senior Iran Abbas Araghchi di Oslo. Pertemuan ini dirancang untuk mengaktifkan kembali jalur komunikasi nuklir yang sempat mati total sejak 2023.
Namun, Iran masih menolak menerima inspektur tambahan dari IAEA (Badan Energi Atom Internasional) di fasilitas sensitifnya.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id