Emas Turun Saat Ketidakpastian Deal AS-Iran Membayangi Pasar
Harga emas melemah pada awal minggu ini, dipengaruhi oleh ketidakjelasan jalannya kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan kekhawatiran inflasi global. Spot emas batangan turun 1% menjadi $4.494,91 per ons pada sesi London, setelah sempat naik 1% pada Jumat lalu ketika optimisme terhadap kesepakatan meningkat. Selama akhir pekan, kedua pihak kembali bersitegang dan saling meminta revisi terhadap draf perjanjian.
Harga minyak melonjak dari level terendah enam minggu pada Senin, mencerminkan memudarnya harapan untuk penyelesaian cepat konflik. Lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi yang lebih tinggi dan menekan prospek penurunan suku bunga, sehingga membebani emas yang tidak memberikan bunga. Biaya pinjaman yang lebih tinggi menjadi salah satu hambatan utama bagi logam mulia.
Wakil Ketua Pengawasan Federal Reserve, Michelle Bowman, menekankan bahwa masih terlalu dini untuk menilai dampak perang Iran terhadap inflasi. Para pembuat kebijakan perlu memperhitungkan fluktuasi harga sementara dan melihat risiko jangka panjang yang dapat memengaruhi stabilitas moneter.
Menurut analis Hebe Chen dari Vantage Markets, “Emas terjebak antara permintaan sebagai aset aman akibat ketidakpastian geopolitik dan tekanan imbal hasil riil yang sensitif terhadap kebijakan The Fed.” Ia menambahkan, harga emas kemungkinan akan tetap terbatas dalam kisaran tertentu sampai kabut geopolitik mereda atau memanas, dengan inflasi menjadi faktor penentu pergerakan selanjutnya.
Selain emas, logam lain menunjukkan pergerakan bervariasi: perak naik 0,3% ke $75,50 per ons, platinum sedikit menguat, sementara paladium turun. Indeks Bloomberg Dollar Spot Exchange menguat tipis 0,1%, menunjukkan dolar AS tetap menjadi safe-haven bagi investor di tengah ketidakpastian pasar energi dan geopolitik.(gn)*
Sumber: Newsmaker.id