Minyak Turun, Pasar Tetap Volatile di Tengah Ketidakpastian Hormuz
Harga minyak berbalik melemah pada Selasa (2/6) setelah lonjakan tajam di sesi sebelumnya, ketika pelaku pasar menimbang ketidakpastian negosiasi AS–Iran dan prospek normalisasi pelayaran melalui Selat Hormuz.
Jenis brent turun sekitar 1,6% ke US$93,46 per barel, sementara WTI melemah 1,6% ke US$90,73 per barel, menghapus sebagian kenaikan sekitar 5% pada Senin.
Volatilitas tetap tinggi karena pasar masih memasang premi risiko terkait potensi gangguan pasokan dari Teluk Persia. Harga sempat terangkat pada awal pekan setelah muncul laporan bahwa Iran menangguhkan pembicaraan tidak langsung dengan Washington, sebelum tekanan mereda ketika Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan masih berjalan dan membuka peluang nota kesepahaman untuk membuka kembali Hormuz dalam waktu dekat, meski sejumlah isu disebut belum tuntas.
Bagi pasar energi, jalur diplomasi yang belum solid membuat pergerakan harga cenderung “headline-driven”: setiap indikasi eskalasi memperlebar premi risiko, sementara sinyal de-eskalasi cepat memicu profit taking setelah reli. Dalam kanal transmisi makro, minyak yang volatil menjaga ketidakpastian terhadap jalur inflasi dan—pada akhirnya—ekspektasi kebijakan suku bunga, sehingga dampaknya dapat menjalar ke dolar dan sentimen risiko global.
Ke depan, fokus pasar tetap pada pembaruan resmi seputar status negosiasi AS–Iran dan kejelasan operasional pelayaran di Selat Hormuz, karena dua faktor itu menjadi penentu apakah premi risiko energi bertahan atau kembali terkompresi.(yds)
Sumbr: Newsmaker.id