Dolar Bergerak Sempit, Pasar Fokus Hormuz dan Data Tenaga Kerja AS
Dolar bergerak dalam rentang sempit pada Selasa (2/6) saat investor menanti perkembangan potensi kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, sambil menunggu rilis data ekonomi AS yang dapat mempengaruhi arah kebijakan Federal Reserve.
Indeks dolar (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, turun tipis 0,05% ke 99,05. Sejak 15 Mei, DXY cenderung berputar di kisaran sekitar 98,9 hingga 99,5, mencerminkan posisi pasar yang masih hati-hati di tengah risiko geopolitik dan agenda data yang padat.
Pasar menilai terobosan damai AS–Iran berpotensi meredakan tekanan pada mata uang negara pengimpor minyak seperti Jepang dan kawasan euro, sekaligus mengurangi permintaan safe haven terhadap dolar. Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, meski muncul laporan bahwa Teheran menangguhkan negosiasi tidak langsung untuk mengakhiri permusuhan, yang turut memicu penurunan tipis harga minyak.
Namun respons investor terhadap sinyal kemajuan cenderung terukur, mengingat rapuhnya gencatan senjata Washington–Teheran yang dicapai pada awal April. Pengumuman Lebanon soal gencatan senjata terbatas antara Hezbollah yang didukung Iran dan Israel pada Senin juga dinilai belum cukup memberi dorongan baru bagi pasar valuta. “Pada Senin malam, rasa lega kembali muncul karena presiden AS tampak mengamankan gencatan senjata lain di Lebanon,” kata Michael Pfister, strategis FX Commerzbank, seraya menambahkan pasar tetap akan didominasi perkembangan headline, dan kabar kemunduran negosiasi akan disikapi dengan kehati-hatian besar.
Dolar sempat menguat pada awal konflik Iran yang dimulai 28 Februari, ditopang permintaan safe haven dan persepsi bahwa ekonomi AS relatif lebih terbatas terpapar inflasi berbasis energi. Namun sebagian penguatan itu terkikis kembali seiring ketidakpastian arah konflik, membuat fokus pasar bergeser ke kombinasi data ekonomi dan komunikasi bank sentral.
Dari sisi data, Departemen Tenaga Kerja AS dijadwalkan merilis data lowongan kerja (job openings) menjelang laporan ketenagakerjaan bulanan yang diawasi ketat pada Jumat. Pasar menilai langkah kebijakan berikutnya dari bank sentral AS adalah kenaikan suku bunga acuannya. Paul Mackel, kepala riset FX global HSBC, menilai kombinasi kondisi keuangan AS yang longgar, meredanya dukungan safe haven, dan nada Fed yang cenderung “sabar” membuat dolar tertahan, namun titik balik bisa mendekat karena semakin bergantung pada data kunci dan arah kebijakan bank sentral, terutama Fed, yang akan menggelar rapat kebijakan dalam dua pekan.
Di Asia, perhatian juga tertuju pada yen yang mendekati level 160 per dolar, area yang luas dipandang pasar sebagai pemicu potensi intervensi. Yen terakhir sedikit melemah ke 159,72 per dolar, sementara Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan otoritas siap merespons pasar valas jika diperlukan. Masafumi Yamamoto, kepala strategis mata uang Mizuho Securities, menilai jika dolar/yen menembus 160, risiko melampaui puncak 30 April meningkat dan dapat memicu peringatan verbal lebih keras hingga pemeriksaan kurs atau intervensi.
Pasar juga menunggu pidato Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda pada Rabu untuk sinyal terkait kemungkinan kenaikan suku bunga pekan depan, di tengah pandangan bahwa langkah pengetatan tetap mungkin dilakukan meski inflasi telah mereda, dengan risiko tertinggal dari kurva kebijakan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id