Gencatan Senjata Terancam, Emas Terkoreksi Tajam
Harga emas merosot lebih dari 1% pada Senin (1/6) ketika sentimen pasar bergeser ke netral di tengah perkembangan Timur Tengah yang kembali mengancam gencatan senjata AS–Iran. XAU/USD turun di bawah $4.490 setelah sempat menyentuh puncak harian di US$4.545, menunjukkan pemulihan emas cepat tertahan saat pasar kembali mem-price-in risiko inflasi.
Pemicu utamanya datang dari lonjakan harga minyak. Negosiasi AS–Iran disebut tersendat setelah Iran menghentikan pertukaran pesan dengan AS, sementara media Iran mengisyaratkan gencatan senjata bisa runtuh jika serangan Israel di Lebanon tidak berhenti. WTI sempat naik sekitar US$6 dan menyentuh puncak US$94,78/barel sebelum memangkas sebagian kenaikan, namun kontrak terdekat masih naik sekitar 4,5% di kisaran US$91,79. Kenaikan minyak ikut mendorong dolar, dengan DXY naik 0,22% ke 99,17, menambah tekanan pada emas yang dihargai dalam USD.
Dari sisi data, ISM Manufacturing PMI AS naik ke 54,0 pada Mei (tertinggi sejak 2022) dari 52,7 pada April, mengindikasikan ekonomi masih resilien. Namun komponen Prices Paid tetap tinggi meski turun dari 84,6 ke 82,1, menegaskan biaya input masih mahal. Kombinasi minyak yang melonjak dan input cost yang tinggi membuat pasar kembali memikirkan skenario suku bunga tinggi lebih lama.
Pasar uang juga disebut mulai mem-price-in peluang kebijakan lebih ketat: peluang kenaikan suku bunga The Fed pada akhir 2026 tercatat mendekati 68% menurut Prime Terminal. Ini menjadi beban bagi emas karena aset tanpa imbal hasil cenderung tertahan ketika ekspektasi suku bunga naik.
Fokus berikutnya pekan ini akan tertuju pada rangkaian data tenaga kerja AS jelang NFP Jumat, komentar pejabat The Fed, serta rilis Beige Book. Pasar juga mulai menatap rapat The Fed 16–17 Juni, yang akan menjadi pertemuan kebijakan pertama di bawah Ketua baru, Kevin Warsh—membuat setiap kejutan inflasi atau energi berpotensi cepat mengubah arah dolar, yield, dan emas.(Arl)*
Sumber : Newsmaker.id