Premi Risiko Naik Lagi, Minyak Cetak Kenaikan Terbesar sejak Mei
Harga minyak mencatat kenaikan harian terbesar sejak awal Mei pada Senin (1/6), ketika pasar kembali memasukkan premi risiko bahwa aliran energi dari Timur Tengah dapat makin terganggu. Brent naik sekitar 4,3% dan ditutup mendekati US$95 per barel, setelah sempat menyentuh di atas US$97 menyusul laporan Tasnim bahwa Iran menghentikan negosiasi dengan AS sebagai protes atas perluasan serangan darat Israel di Lebanon.
Tasnim juga menyebut “Axis of Resistance” mempertimbangkan penutupan Selat Bab el-Mandeb, jalur penting di ujung selatan Laut Merah yang selama ini menjadi rute alternatif ketika Selat Hormuz masih banyak terhambat. Risiko tambahan ini memperkuat kekhawatiran pasar karena gangguan pasokan yang sudah terjadi dinilai masih besar, bahkan beberapa pelaku industri memperingatkan OPEC+ bahwa dampak penutupan Hormuz bisa bertahan hingga akhir tahun meski selat kembali dibuka cepat.
Sebagian reli sempat tertahan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung “dengan cepat”. Trump juga mengklaim Israel dan Hezbollah sepakat menghentikan saling serang di Lebanon—isu yang sebelumnya disebut Iran menjadi syarat penting bagi kesepakatan yang lebih luas. Namun, pasar tetap menilai jalur diplomasi rapuh dan headline masih mudah berubah.
Kenaikan Senin membuat minyak memulihkan hampir setengah dari penurunan pekan lalu, ketika harga sempat jatuh lebih dari US$10 per barel karena harapan kesepakatan akan memulihkan arus tanker melalui Hormuz. Sejak perang dimulai akhir Februari, perlambatan tajam pelayaran melalui jalur vital itu sudah mendorong Brent naik lebih dari 30%, sehingga setiap tanda tambahan risiko pasokan langsung memicu reaksi harga.
Di luar Timur Tengah, faktor pasokan lain juga menjadi latar. Ukraina mencatat rekor serangan terhadap kilang Rusia pada Mei, sementara Rusia melarang ekspor bahan bakar jet hingga November untuk menghindari kekurangan domestik. Kombinasi risiko ini menjaga pasar minyak tetap sensitif terhadap guncangan geopolitik di beberapa front.
Pada penutupan, WTI kontrak Juli naik 5,5% dan ditutup di US$92,16 per barel di New York, sedangkan Brent kontrak Agustus naik 4,2% dan ditutup di US$94,98 per barel. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id