Tingkat Pengangguran Australia Naik ke 4,5%; Dolar Australia Tertekan
Tingkat pengangguran Australia naik menjadi 4,5% pada Juli 2026 dari 4,4% pada bulan Juni, melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan angka tersebut akan tetap di level 4,4%. Data terbaru dari Biro Statistik Australia (ABS) menunjukkan bahwa kondisi pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum setelah sebelumnya menunjukkan kekuatan.
Tekanan juga terlihat pada angka ketenagakerjaan. Australia kehilangan sekitar 15.800 lapangan kerja pada bulan Juli—sebuah perubahan drastis dari penambahan 76.300 lapangan kerja pada bulan Juni dan jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan sekitar 15.000 lapangan kerja.
Tingkat partisipasi angkatan kerja sedikit menurun menjadi 66,9% dari 67,0%. Meskipun lapangan kerja penuh waktu (full-time) meningkat sekitar 16.300, jumlah pekerjaan paruh waktu (part-time) justru berkurang sebanyak 32.200, menyusul periode pertumbuhan yang kuat.
Data ini mengindikasikan pasar tenaga kerja Australia yang mulai melambat, yang dapat mengurangi tekanan bagi Reserve Bank of Australia (RBA) untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, arah kebijakan RBA akan tetap bergantung pada tren inflasi, terutama di tengah risiko kenaikan harga energi global.
Dolar Australia langsung mendapat tekanan setelah rilis data tersebut. Pasangan mata uang AUD/USD turun sekitar 0,26% ke level 0,7106 seiring investor mengurangi ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih *hawkish* dari RBA.
Analisis Newsmaker: Data tenaga kerja yang melemah menjadi sentimen negatif jangka pendek bagi dolar Australia, karena mengurangi alasan bagi RBA untuk melakukan pengetatan kebijakan lebih lanjut. Jika data ekonomi berikutnya juga menunjukkan perlambatan, pasangan AUD/USD dapat menghadapi tekanan penurunan lebih lanjut. Kendati demikian, inflasi dan pergerakan dolar AS tetap menjadi faktor krusial yang akan menentukan apakah pelemahan dolar Australia akan berlanjut atau tetap terbatas. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id