Buyback Gagal Tenangkan Pasar, Dolar Kena Hantam
Dolar AS sempat tertekan ke level terendah dalam sekitar tiga bulan terhadap euro pada perdagangan Kamis (20/8) setelah Departemen Keuangan AS bergerak meredam gejolak di pasar obligasi. Namun, greenback kemudian memangkas pelemahannya setelah yield Treasury kembali bergerak naik. Dollar Index (DXY) terakhir berada di sekitar 98,93, sementara EUR/USD bergerak di sekitar 1,1672 setelah sebelumnya menyentuh 1,1710, level tertinggi sejak 14 Mei.
Tekanan awal terhadap dolar muncul setelah Treasury mengumumkan akan menggandakan ukuran buyback obligasi tenor 10 hingga 30 tahun menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi. Langkah tersebut ditujukan untuk menenangkan pasar obligasi yang sebelumnya mengalami aksi jual tajam akibat kekhawatiran terhadap besarnya defisit fiskal AS dan meningkatnya biaya pendanaan pemerintah.
Pengumuman itu sempat memicu penurunan tajam dolar dan mengangkat aset seperti emas serta Bitcoin melalui narasi debasement trade. Investor mulai mempertanyakan apakah upaya pemerintah menekan yield di tengah utang dan defisit yang besar justru dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap daya beli dolar dan risiko inflasi dalam jangka panjang.
Namun, pasar obligasi kemudian kembali memberikan tekanan. Yield Treasury kembali naik pada Kamis, menunjukkan investor belum sepenuhnya yakin program buyback mampu mengatasi masalah struktural di pasar utang AS. Sejumlah analis menilai pasar saat ini sedang menguji sejauh mana Menteri Keuangan Scott Bessent bersedia melakukan intervensi tambahan untuk membatasi kenaikan yield.
Pelemahan dolar turut menopang yen Jepang, dengan USD/JPY bergerak di sekitar 159,13, sementara poundsterling naik ke sekitar US$1,3622 dan sempat mencapai level tertinggi sejak Februari. Fokus pasar kini beralih ke pidato Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pekan depan. Risalah FOMC Juli sebelumnya menunjukkan banyak pejabat masih membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tidak turun, dengan pasar memperkirakan sekitar 35% peluang Fed hike pada September dan hampir 67% hingga Desember.
Analisis Newsmaker: dolar saat ini berada dalam tarik-menarik antara kekhawatiran fiskal AS yang menekan greenback dan kenaikan kembali yield Treasury yang dapat memberikan dukungan. Selama DXY masih bertahan di bawah 99,00, tekanan terhadap dolar belum sepenuhnya hilang. Namun, jika Warsh memberikan sinyal hawkish di Jackson Hole dan yield kembali menanjak, dolar berpeluang melakukan rebound. Sebaliknya, jika pasar semakin meragukan kredibilitas kebijakan fiskal dan buyback Treasury terus diperbesar, narasi debasement trade dapat kembali menguntungkan emas, Bitcoin, dan mata uang utama lainnya.(yds)
Sumber: Newsmaker.id