Harga Minyak Stabil; Ancaman Blokade Iran Menahan Penurunan
Harga minyak relatif stabil dalam perdagangan hari Jumat (14 Agustus) setelah Amerika Serikat mengancam akan mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran untuk jangka waktu tak terbatas. Minyak mentah Brent berada di kisaran US$87,08 per barel, sementara WTI diperdagangkan di dekat level US$81,31.
Kedua acuan harga minyak tersebut tetap berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan sekitar 4%, meskipun sempat turun lebih dari 2% pada sesi sebelumnya. Risiko geopolitik turut meredam tekanan jual yang muncul setelah data menunjukkan lonjakan besar dalam cadangan minyak AS serta revisi penurunan pada perkiraan permintaan global.
Washington memperingatkan bahwa tekanan ekonomi terhadap Teheran dapat meningkat menyusul kebuntuan dalam perundingan gencatan senjata. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan mengisyaratkan akan adanya langkah-langkah baru untuk semakin mengisolasi ekonomi Iran.
Ketegangan di Selat Hormuz juga masih tinggi. Iran terus membatasi aktivitas pelayaran di jalur air tersebut, yang—sebelum konflik—menjadi jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Risiko keamanan meningkat setelah dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Company dilaporkan diserang saat melintasi selat tersebut.
Di sisi lain, prospek permintaan menjadi faktor penghambat kenaikan harga. Baik OPEC maupun Badan Energi Internasional (IEA) telah memangkas perkiraan permintaan minyak mereka, sementara cadangan minyak mentah AS mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Kondisi ini membuat pasar terjebak dalam tarik-menarik antara risiko pasokan dan kekhawatiran terkait permintaan.
Analisis Newsmaker: Harga minyak terus mendapat dukungan kuat dari ancaman blokade Iran dan ketidakpastian seputar Selat Hormuz; namun, lonjakan cadangan minyak AS dan prospek permintaan yang lebih lemah membatasi potensi kenaikan harga. Selama sentimen yang bertolak belakang ini terus berlanjut, harga Brent kemungkinan akan tetap berada di kisaran US$85–US$90, dengan eskalasi geopolitik sebagai pemicu utama bagi lonjakan harga yang lebih tajam. (asd)
Sumber: Newsmaker.id