Minyak Tembus Puncak Tiga Pekan, Ancaman Trump Bawa Risiko Pasokan
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Kamis (20/8) dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memperluas tekanan terhadap negara-negara yang masih membantu Iran. Brent naik sekitar 2,1% ke US$93,56 per barel, sementara WTI September menguat 2,5% ke US$88,01 per barel, level tertinggi sejak 24 Juli.
Trump sebelumnya mengancam akan menjalankan “perang ekonomi dan isolasi” dalam skala besar terhadap Teheran. Ia juga memperingatkan bahwa negara atau entitas yang memberikan bantuan ekonomi kepada Iran dapat menghadapi konsekuensi dari Washington. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan memberikan penjelasan lebih rinci mengenai langkah tersebut pada Senin.
Ketegangan ini menambah kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah. Konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan sejak serangan militer AS dan Israel terhadap Iran menyebabkan gangguan besar terhadap jalur distribusi minyak dan gas kawasan.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian. Blokade Iran terhadap jalur strategis tersebut serta serangan terhadap sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah telah menghambat pengiriman minyak ke pasar global. Sebelum konflik, Hormuz menjadi salah satu jalur terpenting bagi ekspor energi dunia.
UBS menilai tingginya ketegangan masih membuka peluang terjadinya gangguan pasokan tambahan. Penurunan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah dinilai kembali mengetatkan kondisi pasar, sehingga menjaga premi risiko geopolitik pada harga minyak.
Analisis Newsmaker: bias minyak masih cenderung bullish selama ancaman sanksi baru dan gangguan pasokan Timur Tengah belum mereda. Brent yang bertahan di atas US$93 membuka peluang kembali menguji area US$94–US$95. Namun, setelah reli beberapa sesi, profit taking tetap perlu diwaspadai. Fokus pasar berikutnya tertuju pada rincian kebijakan ekonomi AS terhadap Iran yang akan diumumkan Bessent, karena langkah yang lebih agresif dapat kembali memperbesar risk premium minyak.(yds)
Sumber: Newsmaker.id