Pending Home Sales AS Turun, Sektor Perumahan Kembali Kehilangan Momentum
Pending home sales Amerika Serikat turun 2,3% secara bulanan pada Juli 2026, memperpanjang pelemahan setelah sebelumnya turun 4,8% pada Juni. Hasil tersebut jauh lebih lemah dibanding ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,3%, sekaligus menandai penurunan selama dua bulan berturut-turut.
Pelemahan terjadi secara luas di seluruh wilayah utama AS. Penandatanganan kontrak rumah turun paling dalam di wilayah Barat, diikuti Selatan, Timur Laut, dan Midwest. Secara tahunan, pending home sales juga masih turun 2,2%, menunjukkan permintaan terhadap perumahan belum mampu kembali menguat.
National Association of Realtors menilai tingginya suku bunga hipotek dan harga rumah yang masih berada di level tinggi menjadi tekanan utama bagi calon pembeli. Kondisi tersebut membuat masyarakat menunda pembelian rumah dan menyebabkan properti membutuhkan waktu lebih lama untuk terjual.
Tekanan di sektor perumahan juga terlihat dari posisi kontrak tertunda yang masih sekitar 30% di bawah level pra-pandemi 2019. Kondisi ini cukup kontras dengan jumlah tenaga kerja AS yang sudah berada di atas level sebelum pandemi, menunjukkan bahwa pemulihan pasar kerja belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi permintaan perumahan yang lebih kuat.
Meski penurunan suku bunga hipotek dapat membantu menarik kembali pembeli, proses pemulihan diperkirakan berlangsung bertahap. Pasar masih membutuhkan kombinasi biaya pinjaman yang lebih rendah, harga rumah yang lebih terjangkau, dan kondisi tenaga kerja yang stabil sebelum permintaan perumahan bisa kembali meningkat secara konsisten.
Analisis Newsmaker: Data pending home sales yang jauh di bawah ekspektasi menambah tanda bahwa ekonomi AS mulai kehilangan momentum di sektor yang sensitif terhadap suku bunga. Sentimen ini cenderung memperkuat ekspektasi Fed hold, sehingga berpotensi menekan dolar dan yield Treasury serta memberi dukungan bagi emas. Namun, dampaknya akan tetap bergantung pada apakah pelemahan perumahan berkembang menjadi perlambatan ekonomi yang lebih luas.(gn)
Sumber: Newsmaker.id