
Trending

Perak
Sumber: Newsmaker.id
Harga perak turun tajam pada sesi Eropa Senin, dengan XAG/USD berada di sekitar US$62,34 per troy ounce. Perak turun sekitar 3,3% di tengah tekanan luas pada logam mulia, seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pekan ini.
Tekanan utama datang dari penguatan dolar AS. Indeks Dolar AS naik hampir 0,5% ke 99,59, level tertinggi sejak 2 September, karena investor mencari perlindungan di greenback setelah konflik Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dan menekan sentimen pasar global.
Ekspektasi suku bunga The Fed juga menjadi beban besar bagi silver. Setelah data inflasi AS yang panas dan reli harga energi, pasar semakin memperkirakan kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan The Fed pekan ini. Kondisi ini membuat logam mulia non-yielding seperti perak kurang menarik dibandingkan aset berbunga.
Dari sisi energi, harga minyak kembali melonjak setelah serangan baru Houthi terhadap Arab Saudi, serangan Iran terhadap kapal di kawasan Teluk, dan penutupan pipa minyak utama Saudi memperkuat kekhawatiran pasokan. Lonjakan minyak ini berisiko menjaga inflasi tetap tinggi dan mendorong bank sentral tetap hawkish.
Secara tren, silver masih berada dalam tekanan setelah sebelumnya diperdagangkan di US$64,60 pada Jumat dan kini turun ke area US$63,22. Sejak awal tahun, harga perak juga tercatat melemah sekitar 11,06%, menunjukkan momentum jangka menengah masih belum sepenuhnya pulih.
Analisis Newsmaker: Pelemahan XAG/USD menunjukkan pasar lebih fokus pada risiko Fed hike, penguatan dolar AS, dan yield tinggi dibandingkan faktor safe haven. Selama silver masih tertahan di bawah area US$64,60–US$65,00, bias jangka pendek cenderung lemah. Support terdekat berada di sekitar US$63,00, lalu US$62,20. Namun, jika The Fed memberi sinyal lebih hati-hati atau dolar AS melemah setelah keputusan suku bunga, silver berpeluang rebound kembali ke area US$64,60. (arl)
Sumber : Newsmaker.id