
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas membuka pekan dengan tekanan kuat pada perdagangan Senin (14/9). XAU/USD sempat jatuh ke US$4.253 per troy ounce, level terendah dalam sekitar satu bulan, sebelum kembali bergerak di sekitar US$4.310. Secara harian, emas masih melemah sekitar 0,85% menjelang keputusan kebijakan Federal Reserve pekan ini.
Tekanan utama datang dari penguatan dolar AS dan tingginya yield Treasury. Pasar semakin memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga, membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik dibandingkan obligasi dan instrumen berbasis dolar.
Tekanan terhadap emas semakin besar setelah harga minyak sempat melonjak sekitar 4% akibat serangan baru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi, serangan terhadap kapal di kawasan Teluk, serta penutupan pipa utama Saudi. Kenaikan harga energi kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan memperkuat pandangan bahwa bank sentral harus menjaga kebijakan moneter tetap ketat.
Data CPI AS juga mendukung ekspektasi tersebut. Inflasi konsumen naik 0,4% secara bulanan pada Agustus, meningkat dari 0,1% pada Juli. Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 93% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini, sementara sebagian ekonom juga memperkirakan setidaknya satu kenaikan tambahan hingga akhir Maret.
Dolar AS yang menguat ke level tertinggi dua pekan turut menekan emas karena membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Logam mulia lainnya ikut melemah, dengan silver turun 1,2% ke US$63,71, platinum turun 1,6% ke US$1.768,17, dan palladium melemah 0,7% ke US$1.290,41.
Analisa Newsmaker: Gold masih menghadapi bias bearish menjelang FOMC karena pasar lebih fokus pada risiko kenaikan suku bunga, dolar yang kuat, dan yield tinggi dibandingkan faktor safe haven. Jika The Fed menaikkan bunga disertai panduan hawkish, tekanan terhadap emas dapat berlanjut. Sebaliknya, sikap yang lebih lunak dari perkiraan dapat membuka peluang rebound.
Sumber: Newsmaker.id