
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak menguat pada perdagangan Senin (14/9), dengan West Texas Intermediate atau WTI naik hampir 3% dan bergerak sedikit di atas US$99,50 per barel pada sesi Eropa. Sementara itu, Brent crude juga menguat tajam, naik sekitar 3% ke US$107,81 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh penutupan sementara jalur pipa utama Arab Saudi setelah serangan terbaru pada akhir pekan lalu. Pipa East-West selama ini menjadi rute penting bagi Saudi untuk mengalihkan ekspor minyak dari risiko gangguan di Selat Hormuz.
Menurut laporan Deutsche Bank, reli minyak juga diperkuat oleh penundaan pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk yang semula dijadwalkan untuk membahas pembentukan koridor pelayaran sementara melalui Selat Hormuz. Penundaan ini kembali memunculkan kekhawatiran bahwa upaya diplomasi untuk meredakan gangguan jalur energi belum berjalan mulus.
Saudi Arabia’s Ministry of Energy menyatakan pipa tersebut diserang dan ditutup sebagai langkah pencegahan. Pada saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran juga meluncurkan sejumlah drone untuk memperluas tekanan di sekitar Laut Merah, membuat risiko pasokan energi kawasan semakin meningkat.
Ketidakpastian bertambah setelah rencana pertemuan Iran dan negara-negara Teluk di Oman dibatalkan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Arab Saudi mendesak agar pertemuan antara Teheran dan negara-negara Teluk tidak dilaksanakan, sehingga rencana pengaturan jalur pelayaran sementara di Hormuz kembali tertunda.
Deutsche Bank menilai perkembangan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan regional dan jalur pelayaran utama. Selama pipa alternatif Saudi belum kembali normal dan kesepakatan Hormuz belum tercapai, pasar minyak berpotensi tetap sensitif terhadap kabar serangan baru maupun sinyal diplomasi.
Analisis Newsmaker: Kenaikan Brent mendekati US$108 dan WTI di atas US$99 menunjukkan premi risiko geopolitik masih sangat kuat di pasar minyak. Penutupan pipa East-West Saudi membuat pasar khawatir karena jalur alternatif dari Hormuz ikut terganggu. Jika ketegangan berlanjut dan pertemuan Hormuz kembali tertunda, Brent berpeluang bertahan di level tinggi. Namun, jika diplomasi kembali dibuka dan pasokan mulai lancar, harga minyak rawan mengalami koreksi cepat setelah reli tajam. (arl)
Sumber : Newsmaker.id