
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak menguat pada perdagangan Selasa (15/9), dengan Brent berada di sekitar US$106,67 per barel dan WTI di US$102,55 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah awal pekan yang bergejolak, ketika investor masih mencermati tingginya ancaman terhadap pasokan energi global.
Fokus utama pasar berbunyi pada pipa East-West Arab Saudi yang masih tertutup setelah serangan drone. Jalur ini menjadi rute alternatif penting untuk menghindari Selat Hormuz, sehingga penutupan yang berkepanjangan dapat memperbesar risiko gangguan ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Upaya diplomasi juga belum memberikan kepastian. Pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk Arab yang membahas situasi di Hormuz tiba-tiba tertunda, membuat pasar kembali meragukan peluang deeskalasi dalam waktu dekat.
Iran juga mengklaim sebuah supertanker yang mencoba masuk ke area terbatas di Hormuz meledak setelah menabrak ranjau. Pada saat yang sama, Teheran menegaskan tidak akan membuka pembicaraan dengan Amerika Serikat sebelum tuntutannya dipenuhi.
Dari Eropa Timur, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Ukraina siap menghentikan serangan terhadap target energi Rusia jika Moskow melakukan hal serupa. Pernyataan ini berbeda dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut Rusia dan Ukraina sudah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing.
Analisis Newsmaker: Kenaikan Brent ke US$106,67 dan WTI ke US$102,55 menunjukkan pasar masih memasukkan premi risiko besar pada harga minyak. Selama pipa East-West Saudi belum kembali beroperasi, diplomasi Hormuz tertunda, dan ketegangan Iran-AS belum mereda, harga minyak berpotensi tetap bertahan tinggi. Namun, jika muncul sinyal nyata deeskalasi dari Timur Tengah atau Rusia-Ukraina, aksi profit Taking bisa menekan harga dari level tinggi. (asd)