
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Selasa (15/9), dengan Brent berada di sekitar US$107,22 per barel dan WTI di US$103,29 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah laporan serangan baru Houthi ke Arab Saudi dan serangan Iran terhadap kapal di kawasan Teluk memperbesar kekhawatiran pasokan energi global.
Arab Saudi menutup pipa penting East-West setelah drone yang diluncurkan dari Irak merusak jalur tersebut. Pipa ini menjadi rute alternatif strategis untuk menghindari Selat Hormuz, sehingga penutupannya menambah tekanan pada pasar minyak yang sudah ketat.
Al Jazeera melaporkan bahwa koalisi pimpinan Saudi di Yaman menyebut 13 warga sipil terluka pada Senin setelah Houthi meluncurkan gelombang serangan rudal balistik dan drone ke Arab Saudi. Eskalasi ini menambah risiko bahwa konflik Yaman dapat kembali menyeret infrastruktur energi kawasan.
Di sisi lain, militer Iran mengatakan telah menghancurkan drone canggih Amerika Serikat di atas Selat Hormuz. Ketegangan makin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Washington dapat melanjutkan kampanye terhadap Iran dan mengambil kendali atas minyaknya.
Komando Pusat AS juga membantah klaim IRGC bahwa tanker minyak berbendera Panama, El Gaia, terkena ranjau laut di Selat Hormuz. CENTCOM menyebut kapal tersebut sebelumnya terkena rudal Iran dan menjadi tidak dapat beroperasi, sekaligus menuduh IRGC mencoba mengintimidasi kapal komersial di kawasan selat.
Analisis Newsmaker: Kenaikan Brent ke US$107,22 dan WTI ke US$103,29 menunjukkan pasar masih memasukkan premi risiko besar terhadap harga minyak. Penutupan pipa East-West Saudi, serangan Houthi, dan ketegangan Iran-AS membuat risiko gangguan pasokan tetap tinggi. Jika eskalasi berlanjut, harga minyak berpeluang bertahan di level tinggi dan memicu kekhawatiran inflasi baru. Namun, karena harga sudah naik tajam, pasar juga rawan mengalami koreksi cepat jika muncul sinyal deeskalasi atau kabar diplomasi baru. (asd)