
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak melemah menjelang pembukaan sesi Eropa pada Senin (14/9). Spot gold turun sekitar 0,5% ke US$4.327,09 per troy ounce, sementara emas berjangka AS melemah sekitar 0,9% ke US$4.367,50. Harga masih berada di bawah tekanan setelah mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut.
Tekanan utama datang dari lonjakan harga minyak akibat meningkatnya risiko pasokan di Timur Tengah. Brent naik sekitar 3% ke US$107,81 per barel, sedangkan WTI menguat 2,9% ke US$102,94 setelah serangan terhadap pipa East-West Arab Saudi dan meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran Hormuz serta Bab el-Mandeb.
Kenaikan minyak kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuat pasar semakin yakin Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pekan ini. Probabilitas kenaikan bunga berada di sekitar 87%, meningkat tajam dari sekitar 67% pada pekan sebelumnya. Goldman Sachs dan JPMorgan juga kini memperkirakan The Fed akan menaikkan bunga pada pertemuan September.
Dolar AS yang menguat juga menjadi hambatan bagi emas. Dollar Index naik sekitar 0,23% pada perdagangan Senin, sementara yield obligasi tetap tinggi menjelang keputusan The Fed. Kondisi tersebut membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi relatif kurang menarik dibandingkan aset berbunga.
Menjelang sesi Eropa, Gold masih menghadapi tarik-menarik antara permintaan safe haven dan tekanan suku bunga. Konflik Timur Tengah dapat menahan penurunan emas, tetapi selama minyak tetap tinggi, dolar kuat, dan peluang kenaikan bunga The Fed berada di atas 80%, ruang kenaikan Gold berpotensi terbatas. Area US$4.300 menjadi level psikologis yang penting untuk diperhatikan dalam pergerakan berikutnya.