
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Tehran telah membahas sejumlah proposal dengan mediator Qatar yang nantinya akan disampaikan kepada Amerika Serikat. Araghchi mengatakan respons dari Washington akan diteruskan kembali kepada Iran melalui jalur diplomasi Qatar, membuka peluang adanya perkembangan baru dalam hubungan kedua negara.
Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan yang telah ditetapkan oleh Pemimpin Tertinggi Iran. Araghchi menyebut bahwa apabila Amerika Serikat menginginkan kesepakatan atau solusi damai, Tehran telah menawarkan sebuah jalan penyelesaian yang dapat dibahas melalui proses negosiasi.
Sementara itu, Wakil Ketua Komite Keamanan Nasional Iran menegaskan bahwa sebelum pembicaraan resmi dimulai, Washington perlu menerima sejumlah kondisi yang diajukan Iran. Di sisi lain, Presiden AS **Donald Trump membantah laporan bahwa pemerintahannya telah memberikan keringanan sanksi kepada Iran atau mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah tertentu terkait program nuklir.
Ketegangan di kawasan masih menjadi perhatian setelah laporan adanya suara ledakan di Pulau Qeshm, Iran. Media Iran menyebut suara tersebut kemungkinan berasal dari tembakan peringatan terhadap kapal yang dianggap melanggar aturan di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
Perkembangan diplomasi AS-Iran akan menjadi faktor penting bagi pergerakan harga minyak global. Jika negosiasi menghasilkan kesepakatan dan membuka kembali akses Selat Hormuz, tekanan terhadap harga minyak dapat berkurang karena risiko gangguan pasokan mereda. Namun, apabila pembicaraan kembali menemui jalan buntu, pasar berpotensi mempertahankan premi risiko yang tinggi sehingga harga minyak dapat kembali mendapat dorongan naik akibat kekhawatiran terhadap pasokan energi global.