
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran kembali menegaskan bahwa diplomasi menjadi satu-satunya jalan untuk menyelesaikan konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, namun pembukaan kembali Selat Hormuz masih bergantung pada terpenuhinya sejumlah tuntutan Tehran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu respons resmi AS melalui mediator, sementara kebuntuan tersebut menjaga ketidakpastian di pasar energi.
Usulan Iran sebelumnya menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz melalui mekanisme bertahap dengan periode persiapan sekitar tujuh hari. Namun, Amerika Serikat menolak proposal tersebut karena mencakup pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan aset Iran. Meski demikian, Presiden Donald Trump masih membuka kemungkinan pembicaraan lanjutan antara kedua pihak dalam beberapa hari mendatang.
Selat Hormuz menjadi titik penting karena gangguan aktivitas pelayaran di jalur tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak global. Ketidakpastian mengenai kapan jalur strategis itu dapat kembali beroperasi secara normal membuat risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama dalam menentukan arah harga energi.
Konflik juga semakin berdampak pada kawasan Teluk setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan tekanan terhadap kepentingan Arab Saudi. Perkembangan tersebut menambah risiko terhadap infrastruktur dan jalur ekspor energi, sekaligus memperluas dampak konflik dari Iran dan AS ke negara-negara lain di kawasan.
Bagi pasar global, kebuntuan diplomasi Iran-AS dapat menjaga volatilitas minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi energi. Jika gangguan Selat Hormuz berlanjut, harga minyak berpotensi tetap mendapatkan premi risiko, sementara kenaikan biaya energi dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral.
Ke depan, investor akan mencermati respons resmi Iran terhadap posisi Washington serta kemungkinan dimulainya kembali negosiasi. Kemajuan diplomasi berpotensi meredakan risiko pasokan dan tekanan harga minyak, sementara kegagalan pembicaraan dapat mempertahankan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.(gn)
Sumber: Newsmaker.id