
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Mediator kembali mendorong upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran setelah Presiden Donald Trump menolak proposal Tehran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan guna mengakhiri konflik. Perkembangan ini kembali menjadi perhatian pasar karena jalur tersebut memiliki peran penting dalam distribusi energi global.
Perundingan lanjutan diperkirakan akan membahas rancangan amandemen terbaru dari proposal kesepakatan sementara yang diajukan Iran pada pekan lalu di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mediator berharap proposal tersebut dapat menjadi dasar untuk menghidupkan kembali pembicaraan yang lebih luas.
Dalam rancangan tersebut, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, sementara Washington diharapkan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Skema ini menunjukkan bahwa akses jalur pelayaran dan tekanan ekonomi menjadi dua isu utama dalam upaya meredakan konflik.
Bagi pasar global, perkembangan negosiasi AS-Iran akan menjadi perhatian karena setiap kemajuan diplomasi berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Sebaliknya, kebuntuan perundingan dapat kembali meningkatkan premi risiko pada harga minyak dan memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi.
Investor kini menunggu perkembangan komunikasi berikutnya antara kedua pihak dan sikap Washington terhadap proposal terbaru tersebut. Selat Hormuz tetap menjadi salah satu faktor utama yang perlu dicermati pasar, terutama karena perubahan kondisi di jalur pelayaran tersebut dapat berdampak pada harga minyak, inflasi, yield obligasi, dan sentimen aset global.(gn)
Sumber: Newsmaker.id