
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali meningkat setelah komentar hawkish dari pejabat Federal Reserve dan data ekonomi terbaru memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan. Yield Treasury AS tenor 10 tahun bergerak mendekati 5,10%, kembali berada di level tertinggi dalam beberapa sesi setelah sebelumnya sempat turun usai keputusan kenaikan suku bunga The Fed.
Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan risiko inflasi tetap menjadi perhatian utama dan tekanan harga masih membutuhkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Menurutnya, risiko untuk mengembalikan inflasi menuju target 2% meningkat, sementara kondisi pasar tenaga kerja mulai menunjukkan stabilitas sehingga bank sentral memiliki ruang untuk tetap fokus mengendalikan inflasi.
Sentimen tersebut diperkuat oleh data S&P Global Flash PMI Amerika Serikat yang menunjukkan aktivitas bisnis berada jauh di atas ekspektasi pasar. Selain pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat, komponen harga dalam survei tersebut meningkat ke level tertinggi sejak Oktober 2022, menandakan tekanan inflasi masih menjadi tantangan bagi The Fed.
Kenaikan ekspektasi suku bunga juga tercermin dari pasar berjangka The Fed. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober berada di sekitar 73%. Kondisi ini menunjukkan investor mulai kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat setelah sebelumnya berharap siklus kenaikan suku bunga telah berakhir.
Di sisi lain, kenaikan harga energi turut memberikan tekanan tambahan terhadap prospek inflasi. Harga minyak Brent kembali bergerak di atas US$100 per barel setelah lima sesi penurunan, dipicu pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang menolak melakukan negosiasi di bawah tekanan.
Analisis Newsmaker: Pergerakan yield Treasury AS saat ini menunjukkan pasar kembali fokus pada risiko inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan dari The Fed. Jika tekanan harga tetap bertahan, dolar AS berpotensi mendapat dukungan, sementara aset sensitif terhadap suku bunga seperti saham teknologi dan emas dapat menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi. (arl)
Sumber : Newsmaker.id