
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Pejabat Iran dilaporkan mulai pesimistis terhadap peluang tercapainya kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz sebelum pemilu tengah periode AS pada November. Perundingan yang berlangsung di sela Sidang Umum PBB dinilai belum menghasilkan kemajuan signifikan, sementara kedua pihak masih memiliki tingkat ketidakpercayaan yang tinggi.
Iran tetap menyatakan terbuka terhadap jalur diplomasi, namun mempertanyakan komitmen pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap kesepakatan apa pun yang nantinya tercapai. Di sisi lain, Washington juga menuntut adanya jaminan yang lebih kuat terkait pembukaan kembali jalur pelayaran Hormuz serta kemajuan dalam isu program nuklir Iran.
Mediator seperti Qatar dan Pakistan masih berupaya menjaga komunikasi antara kedua negara. Namun, kesepakatan baru dinilai lebih sulit dibandingkan nota kesepahaman sebelumnya karena AS menginginkan komitmen yang lebih konkret, sementara Iran meminta pengurangan tekanan ekonomi melalui pencabutan sanksi dan pembukaan akses perdagangan.
Ketidakpastian negosiasi kembali memberikan tekanan pada pasar energi karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi distribusi minyak global. Kegagalan mencapai kesepakatan berpotensi menjaga risiko gangguan pasokan, terutama di tengah konflik yang telah meningkatkan harga energi dalam beberapa bulan terakhir.
Analisis Newsmaker:
Situasi AS–Iran saat ini menjadi salah satu faktor utama penggerak pasar minyak global. Investor tidak hanya melihat kemungkinan terbukanya kembali Selat Hormuz, tetapi juga mempertimbangkan risiko konflik yang berkepanjangan. Jika diplomasi mengalami kebuntuan, tekanan inflasi dari sektor energi berpotensi bertahan lebih lama dan dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dari bank sentral global, termasuk The Fed.
Sumber: Newsmaker.id