
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan satu kali kenaikan suku bunga tambahan tahun ini masih mungkin diperlukan untuk membantu menekan inflasi. Namun, ia menegaskan The Fed tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan karena kenaikan suku bunga pada September memberikan waktu untuk mengamati data ekonomi lebih lanjut.
Williams menilai ekonomi AS masih cukup kuat dengan kondisi pasar tenaga kerja yang solid. Situasi tersebut membuat risiko inflasi tetap menjadi perhatian, terutama akibat kenaikan harga energi dan meningkatnya investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).
Menurut Williams, konflik Timur Tengah dan lonjakan permintaan terkait AI menjadi faktor utama yang mendorong tekanan inflasi. Meski demikian, sejauh ini belum terdapat bukti bahwa kenaikan harga tersebut telah menyebar menjadi tekanan inflasi yang lebih luas dan persisten.
Williams memperkirakan inflasi AS berada di sekitar 3,5% tahun ini, kemudian melambat ke sedikit di atas target 2% pada 2027 dan mencapai target tersebut pada 2028. Ia menilai kebijakan moneter tetap berperan untuk mencegah gangguan pasokan energi berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas.
Analisis Newsmaker:
Pernyataan Williams menunjukkan peluang kenaikan suku bunga tambahan masih terbuka, tetapi keputusan The Fed akan sangat bergantung pada data yang masuk. Investor kini akan mencermati perkembangan inflasi, pasar tenaga kerja, harga energi, dan aktivitas ekonomi AS sebagai petunjuk arah kebijakan berikutnya.
Sumber: Newsmaker.id