
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
International Energy Agency (IEA) memangkas proyeksi permintaan minyak global dan memperingatkan konsumsi masih perlu turun dalam beberapa bulan ke depan apabila perang Iran terus berlangsung dan pasokan tetap terbatas.
IEA memperkirakan permintaan minyak global tahun ini turun sekitar 2,5 juta barel per hari, setelah proyeksi penurunan diperbesar sebesar 940.000 barel per hari. Pelemahan tersebut menjadi salah satu kontraksi tahunan terbesar sejak pandemi Covid-19 pada 2020.
Meski permintaan melemah, kondisi pasar justru semakin ketat karena gangguan pasokan jauh lebih besar. IEA memperkirakan defisit minyak global rata-rata sekitar 1,7–1,75 juta barel per hari tahun ini, lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya sekitar 1,3 juta barel per hari.
Pasokan global diproyeksikan berkurang sekitar 5,7 juta barel per hari, setelah estimasi kembali dipangkas 1,3 juta barel. Persediaan minyak dunia juga terus terkuras, dengan stok antara Februari hingga Agustus turun sekitar 2,8 juta barel per hari. IEA menilai surplus pasokan yang sebelumnya diperkirakan muncul akhir tahun kini baru berpotensi kembali pada 2027.
Tekanan paling besar terlihat pada produk distilat menengah seperti diesel serta bahan baku petrokimia di Asia. Kondisi tersebut terjadi ketika Brent kembali diperdagangkan dekat US$107 per barel, setelah konflik AS–Iran kembali memanas dan pertempuran Houthi–Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur pasokan Laut Merah.
Analisa Newsmaker: laporan IEA menunjukkan masalah utama pasar minyak saat ini bukan lagi sekadar permintaan, tetapi gangguan pasokan yang jauh lebih dalam. Walaupun konsumsi melemah, defisit tetap membesar karena produksi dan ekspor turun lebih cepat. Selama perang Iran dan gangguan jalur pelayaran berlanjut, Brent berpotensi tetap bertahan tinggi meski permintaan global mulai menyesuaikan. (arl)
Sumber: Newsmaker.id