
Trending
Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menepis kekhawatiran bahwa operasi buyback obligasi pemerintah terbaru gagal meredam tekanan di pasar Treasury. Menurutnya, kondisi pasar obligasi AS masih berada dalam “sangat baik” meskipun yield jangka panjang terus melonjak.
Departemen Keuangan sebelumnya mengumumkan rencana pembelian kembali obligasi hingga US$6 miliar. Namun, dalam operasi Kamis, jumlah obligasi yang akhirnya dibeli hanya US$5,19 miliar. Hasil tersebut berada di bawah batas maksimum dan memicu spekulasi bahwa program buyback belum cukup kuat untuk menghentikan kenaikan yield.
Bessent mengatakan Treasury hanya akan membeli obligasi ketika harga dianggap menarik. Dalam operasi kali ini, pemerintah hanya menerima penawaran sekitar US$10 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan sekitar US$20 miliar yang biasanya masuk. Kondisi tersebut menunjukkan pemegang obligasi jangka panjang cenderung memilih mempertahankan kepemilikannya.
Yield Treasury AS tetap bergerak tinggi. Yield tenor 10 tahun mencapai sekitar 4,96% pada akhir perdagangan Kamis, setelah sebelumnya berada di bawah 4% sebelum konflik AS–Iran dimulai pada akhir Februari. Yield tenor 30 tahun juga berada dekat level tertinggi sejak 2007.
Bessent menilai lonjakan yield tidak sepenuhnya mencerminkan hilangnya kepercayaan terhadap utang AS. Menurutnya, pergerakan obligasi belakangan ini memiliki korelasi yang sangat kuat dengan harga energi. Lonjakan minyak akibat perang Iran meningkatkan risiko inflasi, sehingga investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi.
Ia juga menuding Iran berupaya menciptakan tekanan ekonomi melalui kenaikan harga minyak dan yield obligasi. Bessent menegaskan bahwa berbagai langkah intervensi yang dilakukan Departemen Keuangan bertujuan menjaga stabilitas pasar, bukan untuk memberikan sinyal bahwa pemerintah akan selalu menentukan arah harga obligasi.
Pernyataan Bessent berusaha meyakinkan pasar bahwa buyback sebesar US$5,19 miliar bukan tanda lemahnya permintaan atau kegagalan kebijakan. Namun, yield 10 tahun yang mendekati 5% menunjukkan tekanan tetap besar. Selama harga minyak bertahan tinggi dan inflasi sulit mereda, yield Treasury berpotensi tetap tinggi, sehingga dolar mendapat dukungan sementara emas dan aset berisiko menghadapi tekanan.