
Trending
Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Pemerintah Amerika Serikat menuduh sejumlah perusahaan kecerdasan buatan China melakukan penyalinan secara agresif terhadap teknologi AI buatan perusahaan AS. Tuduhan terbaru tersebut berpotensi kembali meningkatkan ketegangan teknologi antara Washington dan Beijing menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akhir bulan ini.
Pejabat keamanan dan penegak hukum AS menyebut perusahaan AI China menggunakan teknik yang dikenal sebagai distillation, yakni melatih model AI yang lebih kecil menggunakan keluaran dari model AI yang lebih besar dan lebih mahal. Metode tersebut memungkinkan perusahaan mengembangkan model baru dengan lebih cepat sekaligus menekan biaya pengembangan.
Perusahaan yang disebut dalam laporan AS antara lain DeepSeek, Moonshot AI, Alibaba, MiniMax, dan StepFun. Washington menuding perusahaan-perusahaan tersebut menggunakan varian model AI buatan Amerika untuk mempercepat pengembangan produk mereka, dengan target teknologi dari sejumlah perusahaan seperti Anthropic, OpenAI, Google, dan SpaceX.
Pejabat AS bahkan menyebut aktivitas tersebut dilakukan secara agresif, terarah, dan dalam skala industri serta kemungkinan dilakukan dengan sepengetahuan pemerintah China. Washington juga memperingatkan penggunaan teknologi tersebut tidak hanya dapat mengurangi biaya riset perusahaan China, tetapi berpotensi meningkatkan kemampuan Beijing di bidang militer dan serangan siber.
Tuduhan itu muncul pada saat yang sensitif bagi hubungan kedua negara. Pemerintahan Trump tengah mempersiapkan kunjungan Xi Jinping ke Amerika Serikat pada akhir September, sementara Washington dan Beijing juga dijadwalkan membahas risiko keamanan AI melalui dialog pada pertengahan bulan. Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan langsung terhadap tuduhan terbaru tersebut.
Perkembangan ini berpotensi kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap eskalasi persaingan teknologi AS–China. Jika tuduhan tersebut berkembang menjadi pembatasan baru terhadap akses perusahaan China ke model AI, chip canggih, atau teknologi AS, tekanan dapat meningkat pada saham teknologi China dan sektor semikonduktor. Sebaliknya, ketegangan yang lebih tinggi menjelang pertemuan Trump–Xi juga dapat meningkatkan permintaan terhadap aset defensif apabila pasar mulai melihat risiko konflik teknologi yang lebih luas.
Perkembangan ini berpotensi memberikan dukungan terhadap dolar AS dan emas jika ketegangan teknologi antara Washington dan Beijing kembali meningkat. Dolar dapat memperoleh permintaan sebagai aset safe haven apabila investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, sementara emas juga berpeluang menguat karena meningkatnya kebutuhan lindung nilai terhadap ketidakpastian geopolitik dan perdagangan. Namun, jika eskalasi tersebut justru mendorong ekspektasi inflasi atau suku bunga AS tetap tinggi, penguatan emas bisa lebih terbatas dibandingkan dolar.