
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Presiden AS Donald Trump menyatakan tetap menghormati Ketua Federal Reserve Kevin Warsh meski keduanya menunjukkan pandangan berbeda terkait arah suku bunga. Trump mengatakan Warsh akan mengambil keputusan yang dianggap perlu, sementara dirinya tetap menginginkan biaya pinjaman AS berada pada level serendah mungkin.
Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa hari setelah Warsh menyampaikan nada hawkish dalam pidatonya di Jackson Hole. Warsh menegaskan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi tidak bergerak secara jelas dan cukup cepat menuju target 2%. Pernyataan itu membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan harga tetap bertahan.
Sikap tersebut kontras dengan keinginan Trump yang berulang kali mendorong suku bunga lebih rendah. Trump bahkan mengatakan AS seharusnya menikmati tingkat bunga paling rendah dibandingkan negara lain, terutama karena biaya pinjaman tinggi memperbesar beban pembiayaan pemerintah dan sektor ekonomi.
Pasar justru semakin memperhitungkan kemungkinan kebijakan yang lebih ketat. Setelah pidato Warsh, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September meningkat ke kisaran 64%–66%, jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum Jackson Hole. Yield Treasury juga bergerak naik karena investor kembali menyesuaikan ekspektasi terhadap inflasi dan kebijakan The Fed.
Perbedaan pandangan Trump dan Warsh kini menjadi perhatian karena dapat kembali memunculkan pertanyaan mengenai independensi bank sentral. Namun, Warsh sejauh ini menegaskan bahwa stabilitas harga tetap menjadi prioritas The Fed dan ia memilih tidak memberikan forward guidance yang terlalu spesifik mengenai keputusan suku bunga berikutnya.
Fokus pasar selanjutnya beralih ke data ekonomi AS menjelang pertemuan FOMC 16 September. Data tenaga kerja dan inflasi akan menjadi faktor utama untuk menentukan apakah The Fed benar-benar memiliki cukup alasan untuk menaikkan suku bunga atau memilih mempertahankannya.
Analisis Newsmaker: pernyataan Trump menunjukkan bahwa tekanan politik untuk suku bunga rendah masih kuat, tetapi Warsh sejauh ini menunjukkan sikap yang lebih berorientasi pada pengendalian inflasi. Bagi pasar, kondisi ini menciptakan tarik-menarik antara harapan kebijakan yang lebih longgar dari Gedung Putih dan risiko kenaikan suku bunga dari The Fed. Jika data ekonomi tetap kuat dan inflasi sulit turun, pandangan Warsh berpotensi lebih dominan—yang dapat menopang yield dan dolar sekaligus menjadi tekanan bagi emas serta aset berisiko. (arl)
Sumber : Newsmaker.id