
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas berpotensi menghadapi volatilitas pada perdagangan Rabu (9/9), seiring investor menantikan rilis ADP Weekly Employment Change Amerika Serikat pada pukul 19.15 WIB. Data tersebut akan memberikan gambaran terbaru mengenai momentum perekrutan sektor swasta AS menjelang sederet data inflasi penting pekan ini.
Berbeda dengan indikator ekonomi utama lainnya, ADP Weekly malam ini tidak memiliki konsensus pasar atau forecast resmi. Sejumlah kalender ekonomi mencatat angka sebelumnya sebesar 11,8 ribu, sehingga level tersebut dapat menjadi salah satu referensi awal dalam membaca apakah kondisi tenaga kerja AS mengalami penguatan atau justru kembali melambat.
Data tersebut mendapat perhatian setelah laporan Nonfarm Payrolls Agustus menunjukkan perekonomian AS menciptakan 162 ribu lapangan kerja, jauh melampaui ekspektasi pasar, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Hasil tersebut kembali memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh dan meningkatkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan ini.
Jika ADP Weekly malam ini menunjukkan peningkatan signifikan dari level sebelumnya, pasar dapat menilai kekuatan tenaga kerja AS masih berlanjut. Kondisi tersebut berpotensi menopang imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar AS, sehingga menjadi tekanan tambahan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Sebaliknya, angka ADP Weekly yang jauh lebih rendah, terutama mendekati nol atau bahkan negatif, dapat menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan kekuatan pasar tenaga kerja. Pelemahan dolar dan Treasury yield sebagai respons terhadap data yang lemah berpotensi membuka ruang bagi emas untuk melakukan rebound.
Meski demikian, ADP Weekly kemungkinan hanya menjadi pemicu awal, karena perhatian utama investor pekan ini tetap tertuju pada PPI pada Kamis (10/9) dan CPI pada Jumat (11/9). Kekhawatiran inflasi juga meningkat setelah harga minyak melonjak akibat eskalasi konflik Timur Tengah, sementara pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sekitar 60%. Kombinasi data inflasi yang panas dan tenaga kerja yang kuat dapat kembali menekan emas, sedangkan tanda perlambatan inflasi dan tenaga kerja berpotensi menjadi katalis bullish yang lebih kuat bagi logam mulia.(CP)