
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Inflasi Amerika Serikat masih menjadi salah satu persoalan utama bagi Federal Reserve menjelang pertemuan kebijakan moneter September. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed, tercatat naik 3,7% secara tahunan pada Juli 2026, tidak berubah dari Juni dan masih jauh di atas target inflasi bank sentral sebesar 2%. Inflasi inti PCE yang mengecualikan makanan dan energi juga bertahan di 3,3%.
Sementara itu, data Consumer Price Index (CPI) Juli menunjukkan kenaikan yang lebih moderat. CPI naik 0,1% secara bulanan dan sekitar 3,4% secara tahunan, sedangkan core CPI meningkat 0,2%. Meskipun kenaikan bulanan melambat, tingkat inflasi tahunan masih menunjukkan bahwa tekanan harga di AS belum sepenuhnya mereda.
Apa yang Membuat Inflasi AS Bertahan Tinggi?
Salah satu faktor terbesarnya adalah harga energi. Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran telah menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. PCE bahkan sempat mencapai 4,1% pada Mei, level tertinggi dalam tiga tahun, setelah konflik mendorong harga energi meningkat tajam.
Kondisi tersebut kembali menjadi perhatian setelah konflik AS-Iran memanas pada awal September. Kenaikan minyak dapat menyebar ke berbagai sektor ekonomi karena energi merupakan bagian penting dari biaya transportasi, produksi, hingga distribusi barang. Semakin lama harga minyak bertahan tinggi, semakin besar pula risiko tekanan inflasi kembali meningkat.
Faktor berikutnya berasal dari kebijakan tarif impor AS. Tarif membuat sejumlah barang dan bahan baku dari luar negeri menjadi lebih mahal. Produsen kemudian menghadapi kenaikan biaya yang dapat diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga jual yang lebih tinggi. Reuters mencatat tarif telah ikut mendorong harga berbagai barang sejak tahun lalu, sementara konflik Iran memperkuat tekanan tersebut.
Tekanan harga juga terlihat dari sektor manufaktur. Indeks ISM Manufacturing Prices Paid berada di 71,1 pada Agustus, menunjukkan produsen masih menghadapi kenaikan biaya input yang cukup tinggi. Harga aluminium, baja, tembaga, bahan bakar, komponen elektronik hingga semikonduktor dilaporkan masih meningkat. Gangguan rantai pasokan dan waktu pengiriman yang lebih panjang turut memperbesar tekanan harga.
Di saat yang sama, ekonomi AS masih cukup kuat untuk mempertahankan permintaan. Belanja konsumen dan investasi bisnis masih menunjukkan ketahanan, sementara pasar tenaga kerja belum mengalami pelemahan besar. Kombinasi permintaan yang tetap kuat dengan biaya produksi yang meningkat membuat proses membawa inflasi kembali menuju target 2% menjadi semakin sulit.
Dampaknya terhadap The Fed
Inflasi yang bertahan tinggi meningkatkan tekanan terhadap Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan kembali suku bunga. Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan bank sentral masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila belum memperoleh keyakinan bahwa inflasi sedang bergerak secara berkelanjutan menuju 2%.
Pasar saat ini bahkan memperhitungkan sekitar 66% kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15–16 September, meningkat tajam dibandingkan ekspektasi beberapa pekan sebelumnya. Suku bunga acuan AS saat ini berada di kisaran 3,50%–3,75%.
Dampak terhadap Pasar
Inflasi AS yang tinggi biasanya menjadi sentimen positif bagi dolar AS dan yield Treasury, karena pasar mengantisipasi suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama atau kembali naik. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi tekanan bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas, terutama jika kenaikan yield riil dan dolar lebih dominan dibandingkan permintaan safe haven.
Pasar saham juga dapat terkena tekanan karena kenaikan suku bunga meningkatkan biaya pendanaan perusahaan dan membuat valuasi saham, terutama sektor teknologi, menjadi lebih mahal. Bagi masyarakat AS, inflasi yang tinggi berarti daya beli tetap tertekan karena harga barang dan jasa meningkat, sementara biaya kredit, hipotek, serta pinjaman dapat tetap tinggi lebih lama.
Analisa Newsmaker: Masalah inflasi AS saat ini bukan hanya berasal dari satu faktor. Harga minyak akibat konflik geopolitik, tarif impor, tingginya biaya bahan baku, gangguan rantai pasokan, serta ekonomi yang masih cukup kuat bekerja secara bersamaan mempertahankan tekanan harga. Selama PCE masih jauh di atas target 2% dan harga energi belum mereda, ruang The Fed untuk bersikap dovish menjadi terbatas. Bagi pasar, kondisi tersebut cenderung mendukung dolar dan yield Treasury, sementara emas serta aset berisiko dapat tetap menghadapi tekanan. Fokus berikutnya adalah data tenaga kerja AS pekan ini dan CPI Agustus yang akan memberikan gambaran apakah inflasi mulai mereda atau kembali menguat.(CP)