Saham Jepang Tergelincir, Risiko Hormuz dan Lonjakan Minyak Picu Risk-Off
Saham Jepang melemah pada awal perdagangan Senin setelah ancaman Presiden AS Donald Trump terkait serangan ke pembangkit listrik di sekitar Selat Hormuz memperbesar kekhawatiran pasar atas lonjakan harga minyak. Sentimen berubah semakin defensif karena investor menilai gangguan energi dapat bertahan dan meningkatkan risiko inflasi global.
Indeks Nikkei 225 sempat turun hingga 3,1%, sementara Topix melemah hingga 2,7%. Pelemahan ini juga mencerminkan efek “catch-up” setelah bursa Tokyo libur pada Jumat, sehingga penyesuaian harga terjadi lebih cepat mengikuti pergerakan pasar global.
Sektor yang paling menekan Topix adalah elektronik dan perbankan, dua kelompok yang sensitif terhadap perubahan ekspektasi pertumbuhan dan suku bunga. Di Nikkei, Nissan Motor dan IHI Corp termasuk yang melemah paling dalam, seiring investor mengurangi eksposur pada saham siklis dan berisiko.
Lonjakan minyak menjadi pemicu utama risk-off lintas sektor. Brent berada di sekitar US$112 per barel pada pagi hari di Tokyo, memperbesar kekhawatiran biaya energi dan margin perusahaan, sekaligus menekan selera risiko di pasar ekuitas.
Strategis Tokai Tokyo Intelligence, Shoji Hirakawa, mengatakan pasar semakin percaya perang Iran akan berlangsung lama, sehingga sektor yang sensitif terhadap makro—termasuk teknologi—rentan mengalami tekanan jual. Ia menambahkan, jika minyak naik hingga US$130 per barel, peluang kenaikan suku bunga AS bisa meningkat, yang akan menjadi hambatan tambahan bagi saham Jepang.
Meski begitu, Hirakawa menilai sebagian risiko penurunan sudah mulai tercermin dalam harga, sehingga peluang rebound tetap ada bila volatilitas energi mereda atau pasar mendapat sinyal stabilisasi. Arah berikutnya akan banyak ditentukan oleh perkembangan di Hormuz, jalur harga minyak, dan perubahan ekspektasi suku bunga global. (asd)
Sumber : Newsmaker.id