Saham Asia Menguat, Disaat Minyak Turun karena Perundingan AS–Iran
Saham Asia bergerak naik mengikuti penguatan Wall Street, sementara harga minyak melemah di tengah optimisme pasar terhadap peluang dimulainya kembali pembicaraan AS–Iran. Indeks MSCI Asia Pacific naik 0,8% dengan mayoritas saham menguat, dipimpin Korea Selatan yang melonjak 3,4% setelah reli S&P 500 mendekati puncak akhir Januari dan Nasdaq 100 memperpanjang rekor kenaikan menjadi 10 hari beruntun.
Di komoditas energi, Brent turun untuk hari kedua ke sekitar US$94,40/barel setelah Presiden Donald Trump menyebut perang “sangat dekat” berakhir. Penurunan minyak mendorong reli di obligasi pemerintah AS karena ekspektasi tekanan inflasi mereda, sementara indeks dolar Bloomberg relatif stabil setelah tujuh hari melemah.
Perbaikan sentimen ditopang keyakinan bahwa de-eskalasi ketegangan Timur Tengah akan menahan harga energi, membantu menurunkan risiko inflasi, dan membuka ruang pemulihan pertumbuhan. AS dan Iran disebut mengupayakan putaran kedua pembicaraan dalam beberapa hari, meski risiko pasokan tetap tinggi karena ketegangan di Selat Hormuz dan langkah AS melanjutkan blokade laut untuk membatasi ekspor minyak Iran.
Aset Asia yang sempat paling tertekan oleh perang mulai memulihkan kerugian, mencerminkan naiknya keyakinan investor bahwa tensi dapat mereda. Saham Taiwan dan Singapura sudah menutup penurunan sebelumnya, yuan mencatat penguatan delapan hari beruntun hingga Selasa, sementara emas melemah tipis sekitar 0,2% ke kisaran US$4.830/ons.
Namun, narasi makro masih dibayangi dampak perang terhadap prospek global. IEA memperkirakan konflik berisiko menekan pertumbuhan permintaan minyak global, sementara IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan dunia tahun ini dan membuka skenario pelemahan lebih dalam bila konflik berkepanjangan serta infrastruktur energi terdampak. Fokus pasar kini bergeser ke laba kuartal I dan data inflasi AS, setelah PPI Maret naik lebih rendah dari perkiraan meski biaya energi sempat melonjak. (asd)
Sumber: Newsmaker.id