Wall Street Perpanjang Rebound, Sinyal De-eskalasi Iran Menguat
Indeks saham utama Amerika Serikat menguat pada Rabu (25/3) dan memperpanjang rebound pekan ini, seiring munculnya sinyal bahwa pejabat AS tengah mengupayakan de-eskalasi konflik dengan Iran. S&P 500, Dow, dan Nasdaq 100 masing-masing naik lebih dari 1%, mencerminkan kembalinya minat risiko (risk-on) di tengah perubahan cepat pada sentimen pasar.
Penguatan saham terjadi ketika komoditas energi memangkas lonjakan bulan ini dan pasar obligasi AS ikut membaik. Laporan bahwa Washington menyusun rencana untuk menghentikan pertempuran di Timur Tengah membantu mendorong pandangan inflasi yang lebih “jinak,” meski respons Iran tetap hawkish. Penurunan yield obligasi acuan memberikan dukungan tambahan bagi saham, karena biaya pendanaan dan faktor diskonto untuk valuasi menjadi lebih ringan.
Di Wall Street, hampir semua sektor bergerak menguat, kecuali produsen energi yang tertahan seiring koreksi harga komoditas energi. Dengan berkurangnya tekanan dari yield, investor terlihat kembali meningkatkan eksposur ke aset berisiko, sementara pasar tetap menimbang dampak lanjutan konflik terhadap jalur pasokan dan inflasi global.
Saham-saham manajer aset kembali menjadi sorotan di tengah evaluasi ulang risiko potensi lonjakan permintaan penarikan dana (redemption) di produk private equity. Apollo, Ares, dan KKR tercatat menguat, sejalan dengan membaiknya sentimen setelah tekanan di segmen tersebut sebelumnya memicu kekhawatiran stabilitas likuiditas.
Di sektor teknologi, penguatan dipimpin oleh ARM yang melonjak sekitar 10% setelah mengumumkan rencana untuk menjual chip buatan sendiri. AMD dan Intel juga naik sekitar 5% masing-masing setelah rencana penyesuaian harga diumumkan—memberi dorongan pada saham chip di tengah rotasi risk-on.(yds)
Sumber: newsmaker.id