Produsen Teluk Temukan Cara Baru Lewati Selat Hormuz
Aliran minyak non-Iran melalui Selat Hormuz melonjak sekitar 50% sejauh bulan ini. Kenaikan terjadi karena semakin banyak produsen minyak Teluk Persia menemukan cara untuk tetap melewati jalur penting tersebut, meskipun ketegangan antara Washington dan Teheran masih berlangsung.
Menurut data Vortexa Ltd., setidaknya 1,8 juta barel minyak per hari melewati Teluk Persia dalam 10 hari pertama Juni. Angka tersebut naik dari sekitar 1,2 juta barel per hari pada Mei dan berpotensi direvisi lebih tinggi seiring bertambahnya kapal tanker yang terpantau melalui citra satelit.
Di sisi lain, pengiriman minyak Iran melalui jalur tersebut justru turun tajam. Blokade yang diberlakukan Amerika Serikat masih menahan pergerakan kapal tanker Iran. Data Vortexa menunjukkan tidak ada minyak Iran yang melewati koridor tersebut selama periode yang sama.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama perhatian pasar sejak konflik meningkat pada akhir Februari, setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran. Iran sempat memperketat kendali atas jalur tersebut, tetapi pengawasan itu mulai melemah seiring meningkatnya transit gelap, yaitu pelayaran kapal tanpa sinyal AIS. Meski begitu, volume arus minyak saat ini masih jauh di bawah kondisi sebelum perang, yang mencapai sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari.
Pasar mulai menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Ketika otoritas Iran kembali menyatakan Selat Hormuz ditutup, harga Brent hanya bergerak terbatas, berbeda dengan awal perang yang sempat memicu lonjakan harga tajam. Namun, pelaku pasar tetap mencermati apakah kapal-kapal minyak masih dapat terus keluar dari kawasan Teluk, terutama setelah AS meningkatkan tekanan terhadap kapal yang diduga mencoba masuk ke pelabuhan Iran. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id