Bursa Asia Tertekan, Minyak Berayun Tajam Saat Ultimatum Hormuz Mendekati Tenggat
Pasar keuangan memulai Senin dengan volatilitas tinggi, ditandai penurunan bursa Asia dan pergerakan liar pada futures saham AS serta minyak, ketika perang Iran memasuki pekan keempat tanpa tanda de-eskalasi. Obligasi AS ikut tertekan, memperkuat sinyal risk-off yang kembali meluas setelah pekan sebelumnya saham dan obligasi sama-sama melemah.
Indeks MSCI Asia Pacific turun 1,2%, dipimpin Jepang yang kembali diperdagangkan usai libur Jumat, dengan penurunan saham mencapai sekitar 3%. Korea Selatan paling terpukul, Kospi turun lebih dari 4%, sementara saham Australia melemah hingga 2% dan bergerak menuju zona koreksi. Indeks Hang Seng turun 2.1%, Topix Jepang turun 2%.
Minyak berayun tajam: sempat naik sekitar 1,9% sebelum berbalik turun hampir 1,8%, tetap bertahan di sekitar US$112 per barel. S&P 500 futures bergerak choppy sebelum turun 0,4%. Di Australia, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 13 bps, memperpanjang penurunan harga obligasi, sementara indikator dolar Bloomberg relatif stabil.
Pemicu utama adalah eskalasi di sekitar Selat Hormuz. Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam agar Teheran membuka kembali selat atau menghadapi serangan ke pembangkit listrik Iran, dengan tenggat berakhir Senin malam waktu New York. Iran menegaskan serangan semacam itu akan memicu penutupan Hormuz tanpa batas waktu dan serangan balasan terhadap infrastruktur energi AS dan Israel di kawasan.
Pelaku pasar menilai ketidakpastian kini menjadi risiko utama. Strategis Miller Tabak, Matt Maley, mengatakan lonjakan ketidakpastian membuat investor cenderung menahan diri; bahkan jika tidak ada aksi jual besar, absennya pembeli dapat menciptakan “vakum” likuiditas yang memperbesar ayunan harga.
Di pasar global, perang AS–Iran telah mendorong aksi jual serentak di saham dan obligasi, dengan yield AS bertahan di level tertinggi dalam beberapa bulan setelah tiga pekan rugi beruntun. Pekan lalu, yield Treasury 2 tahun naik 18 bps ke 3,90%, mencerminkan reposisi pasar untuk suku bunga yang lebih tinggi. Di AS, aksi jual makin cepat pada Jumat ketika pelaku pasar mulai mengantisipasi The Fed bisa bergeser ke pengetatan tahun ini jika lonjakan minyak memicu guncangan inflasi baru, sekaligus meningkatkan tekanan bagi bank sentral lain di Jepang, Eropa, dan Inggris di tengah outlook pertumbuhan global yang melemah. (asd)
Sumber : Newsmaker.id