Saham Asia Menguat Ikuti Wall Street, Pasar Pantau Hormuz dan Minyak
Bursa saham Asia bergerak naik pada perdagangan Selasa, mengikuti penguatan Wall Street setelah penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi. Optimisme muncul seiring harapan lebih banyak kapal tanker bisa kembali melintasi Selat Hormuz.
Saham dibuka menguat di Jepang, Korea Selatan, dan Australia, mendorong indeks MSCI Asia Pasifik naik 0,9%. Dolar AS relatif stabil setelah mencatat pelemahan terbesar dalam lebih dari sebulan, sementara obligasi pemerintah AS bergerak terbatas setelah reli pada Senin.
Di pasar energi, Brent naik dan diperdagangkan sekitar US$102 per barel pada awal sesi Asia, setelah turun 2,8% pada sesi sebelumnya. Namun, kontrak berjangka indeks saham AS sedikit melemah, memberi sinyal bahwa sentimen positif di awal pekan mulai kehilangan tenaga.
Minat risiko juga ditopang ekspektasi sejumlah negara dapat mengurangi cadangan minyak untuk menyeimbangkan potensi gangguan pasokan. Presiden AS Donald Trump kembali meminta dukungan sekutu untuk membantu pengamanan Selat Hormuz, sementara ancaman terhadap jalur pelayaran tersebut tetap memicu kekhawatiran inflasi menjelang pertemuan bank sentral pekan ini.
Di AS, S&P 500 mencetak kenaikan harian terbaik sejak Februari pada Senin, dipimpin saham teknologi. Nvidia naik 1,7% setelah menyatakan memperkirakan pendapatan chip kecerdasan buatan dapat mencapai setidaknya US$1 triliun hingga akhir 2027.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke agenda bank sentral, dengan Federal Reserve diperkirakan menahan suku bunga pada hari Rabu, diikuti Bank of England dan Bank Sentral Eropa. Di kawasan Asia-Pasifik, Reserve Bank of Australia memperkirakan menaikkan suku bunga, sementara yen menjadi sorotan karena mendekati level 160 per dolar AS di tengah sensitivitas Jepang terhadap biaya impor energi. (asd)
Sumber : Newsmaker.id