Wall Street Rebound Saat Minyak Terkoreksi, Pasar Pantau Perang Iran dan Hormuz
Saham-saham AS menguat pada Senin (16/3) ketika Wall Street berupaya memulihkan diri dari pekan ketiga beruntun di zona merah, dibantu koreksi harga minyak yang meredakan tekanan inflasi energi. Dow Jones naik 517 poin (1%), S&P 500 menguat 1,1%, dan Nasdaq bertambah 1,3%, setelah S&P 500 ditutup pada level terendah tahun ini pada Jumat.
Koreksi minyak menjadi penopang utama sentimen. WTI turun sekitar 4% ke bawah US$95 per barel setelah sempat diperdagangkan di atas US$100 semalam, sementara Brent turun lebih dari 1% di sekitar US$101. Pelemahan terjadi setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut AS mengizinkan tanker minyak Iran melintas Selat Hormuz, ditambah laporan Wall Street Journal bahwa AS akan segera mengumumkan koalisi negara untuk mengawal kapal melalui jalur tersebut.
Pergerakan minyak penting karena lonjakan pekan lalu—ketika Brent menutup di atas US$100 untuk pertama kalinya sejak 2022—dipicu kemacetan lalu lintas di Hormuz sejak perang dimulai. Penurunan minyak pada Senin memberi ruang bagi aset berisiko, karena pasar menilai risiko inflasi energi tidak memburuk lebih jauh dalam jangka dekat, meski ketidakpastian pasokan belum hilang.
Di level saham, penguatan dipimpin sektor teknologi. Meta naik lebih dari 2% setelah laporan—yang disebut perusahaan sebagai “spekulatif”—terkait rencana pemutusan hubungan kerja lebih dari 20% tenaga kerja. Nvidia menguat lebih dari 2% menjelang konferensi GTC yang dimulai Senin, menambah dorongan pada indeks berbasis teknologi.
Di sisi geopolitik, pasar tetap menilai risiko eskalasi. Presiden Donald Trump pada Jumat memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran di Pulau Kharg. Meski serangan itu tidak berdampak pada infrastruktur minyak, Trump menyatakan AS dapat mempertimbangkan menargetkan struktur tersebut jika Iran terus memblokir Selat. Trump juga mengatakan Iran ingin membuat kesepakatan, namun ia belum siap.
Dampak pasar berikutnya akan banyak ditentukan oleh tiga variabel: bukti pemulihan arus kapal di Hormuz dan rincian koalisi pengawalan, arah harga minyak setelah koreksi tajam, serta apakah perang bergerak menuju de-eskalasi atau justru menambah risiko pasokan yang kembali mengangkat inflasi dan menekan ekuitas. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id