Wall Street Melemah, Minyak Saat Risiko Hormuz Membesar
Saham-saham AS melemah pada Rabu (11/3) ketika investor tetap fokus pada perang di Timur Tengah dan mengesampingkan data inflasi yang merekam periode sebelum konflik dimulai. S&P 500 ditutup turun 0,1% dan memperpanjang penurunan untuk hari kedua, sementara Nasdaq 100 relatif datar. Di pasar energi, Brent melonjak 5,9% ke US$92,99 per barel.
Pergerakan pasar mencerminkan kekhawatiran bahwa risiko energi kembali mendominasi narasi inflasi dan arah suku bunga, terlepas dari data harga konsumen yang terlihat lebih jinak sebelum eskalasi. S&P 500 juga masih berada di bawah rata-rata pergerakan 50-hari dan 100-hari, mendorong pelaku pasar memperhatikan sinyal teknikal untuk mengukur ruang koreksi lanjutan.
Di sisi geopolitik, Iran disebut menyampaikan kepada mediator regional bahwa gencatan senjata mensyaratkan komitmen AS dan Israel untuk tidak kembali menyerang. Presiden Donald Trump berupaya menurunkan kekhawatiran pasar dengan mengecilkan ancaman ranjau di Selat Hormuz dan kembali menyatakan perang dapat berakhir “segera,” meski tanpa kerangka waktu yang jelas. Reuters melaporkan Iran menempatkan sekitar selusin ranjau di jalur tersebut, menurut sumber yang mengetahui masalah itu.
Upaya menenangkan pasar datang bersamaan dengan keputusan International Energy Agency (IEA) menyetujui pelepasan cadangan minyak sebesar 400 juta barel, yang disebut sebagai rekor. Namun pasar menilai sinyal kebijakan belum cukup untuk menghapus premi risiko, sementara Trump menegaskan operasi belum selesai dan AS akan melanjutkan “lebih dari yang sama” hingga tujuan tercapai.(yds)
Sumber: Newsmaker.id