Minyak Anjlok Pasca Trump Batalkan Serangan
Harga minyak dunia turun tajam pada perdagangan Jumat (12/6) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan baru terhadap Iran. Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, sehingga harga minyak bergerak ke level terendah dalam hampir dua bulan.
Kontrak berjangka Brent melemah 4,22% ke level US$86,57 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI turun 4,33% ke US$83,91 per barel. Kedua acuan harga minyak tersebut menyentuh level terendah sejak 17 April, seiring meningkatnya harapan bahwa ketegangan AS-Iran dapat mereda dalam waktu dekat.
Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan dan kesepakatan damai yang dapat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz berpeluang ditandatangani paling cepat akhir pekan ini. Dari pihak Iran, Teheran menyebut belum mengambil keputusan final, meski sebagian besar isi kesepakatan disebut telah dirampungkan.
Sentimen pasar juga dipengaruhi laporan bahwa negosiasi akhir antara Iran dan AS akan berfokus pada isu nuklir dan ekonomi, namun tidak mencakup program rudal Iran. Bagi pasar minyak, sinyal ini cukup penting karena pembukaan kembali Selat Hormuz dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi global yang sebelumnya mendorong harga minyak naik tajam.
Meski harga minyak turun, risiko belum sepenuhnya hilang. Selat Hormuz masih menjadi titik rawan karena jalur tersebut biasanya menjadi rute bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Iran sebelumnya mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan mengancam akan menembaki kapal yang mencoba melintas, meskipun militer AS menyatakan kapal komersial masih tetap melewati jalur tersebut.
Secara opini, penurunan harga minyak saat ini lebih banyak didorong oleh perubahan sentimen akibat peluang damai AS-Iran, bukan karena risiko pasokan benar-benar selesai. Jika arus minyak melalui Selat Hormuz tidak segera pulih, pasar berpotensi kembali menghadapi tekanan pasokan, terutama saat permintaan musiman meningkat.
Dalam skenario tersebut, harga minyak masih bisa kembali naik tajam apabila stok global menipis dan jalur perdagangan energi belum sepenuhnya normal.(yds)
Sumber: Newsmaker.id