Harapan Damai Iran Tekan Dolar AS
Dolar Amerika Serikat bergerak melemah pada perdagangan Jumat (12/6), sementara euro bertahan kuat seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Indeks dolar AS turun 0,1% di sesi London dan stabil setelah sempat menyentuh level terendah dalam sepekan pada perdagangan sebelumnya. Sepanjang pekan, indeks dolar berpotensi melemah sekitar 0,3%.
Sentimen pasar membaik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran berpeluang ditandatangani paling cepat akhir pekan ini. Pernyataan tersebut mendorong suasana risk-on di pasar global, karena investor mulai memperkirakan meredanya ketegangan di Timur Tengah dan potensi pembukaan kembali jalur pasokan energi utama.
Harga minyak ikut turun ke level terendah dalam sekitar dua bulan karena pasar melihat peluang deeskalasi konflik dan normalisasi jalur distribusi energi. Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi berbasis energi, meskipun data produsen AS sebelumnya menunjukkan kenaikan harga yang lebih tinggi dari perkiraan akibat lonjakan biaya energi.
Namun, tekanan inflasi inti yang lebih rendah dari proyeksi membuat pasar sedikit lebih tenang terhadap risiko kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Investor kini mulai menggeser ekspektasi pengetatan kebijakan moneter ke periode yang lebih jauh, sembari menunggu rapat Federal Reserve pekan depan untuk membaca arah kebijakan terbaru.
Di Eropa, euro bergerak di dekat level terkuat dalam sepekan dan menuju kinerja mingguan terbaik dalam lebih dari satu bulan. Penguatan euro didukung oleh keputusan Bank Sentral Eropa yang menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun. Kebijakan tersebut memberi dorongan tambahan bagi mata uang euro di tengah pelemahan dolar AS.
Sementara itu, pound sterling bergerak relatif stabil, tetapi masih berada di jalur penguatan mingguan terbaik dalam hampir satu bulan. Mata uang Inggris mendapat dukungan dari membaiknya minat risiko global, meskipun data ekonomi menunjukkan ekonomi Inggris terkontraksi 0,1% pada April, penurunan bulanan pertama sejak Agustus.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada rapat Federal Reserve dan Bank of England pekan depan. The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga, tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan pernyataan Jerome Powell. Di Inggris, Bank of England juga diperkirakan menahan suku bunga, sementara pasar tetap menimbang risiko inflasi yang masih membandel dan ekonomi yang mulai melambat.
Secara opini, pelemahan dolar saat ini lebih banyak dipicu oleh kombinasi optimisme damai AS-Iran, turunnya harga minyak, dan ekspektasi bahwa The Fed tidak akan buru-buru menaikkan suku bunga. Namun, ruang pelemahan dolar masih bisa terbatas apabila data inflasi kembali panas atau The Fed memberi sinyal lebih hawkish.
Untuk saat ini, pasar valuta asing bergerak dengan dua fokus utama: perkembangan Timur Tengah dan arah kebijakan bank sentral global.(yds)
Sumber: Newsmaker.id