Yen Melemah, Efek Intervensi Memudar
Yen Jepang sedikit melemah pada perdagangan Selasa (4/8), tetapi masih mempertahankan sebagian besar penguatan setelah intervensi bersama Jepang dan AS. USD/JPY naik sekitar 0,25% ke 157,56, setelah sebelumnya sempat turun ke 155,20, level terkuat yen dalam tiga bulan.
Dalam tiga sesi terakhir, yen sempat menguat hingga sekitar 5%. Penguatan terjadi setelah Tokyo dan Washington mengonfirmasi pembelian yen secara terkoordinasi untuk menghentikan pelemahan mata uang Jepang yang pada Juli sempat menyentuh level terendah 40 tahun di 163,99 per dolar AS.
Intervensi tersebut dipandang sebagai pesan kuat agar pelaku pasar tidak terus mengambil posisi jual terhadap yen. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut yen telah berada dalam kondisi sangat undervalued dan menegaskan Washington siap membantu Jepang menjaga stabilitas mata uangnya.
Namun, dampak intervensi biasanya hanya bertahan sementara apabila tidak didukung perubahan fundamental. Perbedaan arah kebijakan antara Bank of Japan dan Federal Reserve, serta selisih imbal hasil obligasi AS–Jepang, masih dapat mendorong investor kembali menjual yen. Mayoritas analis juga memperkirakan BoJ masih perlu menaikkan suku bunga untuk memperkuat pemulihan yen secara berkelanjutan.
Terhadap euro, yen melemah sekitar 0,33% ke 181,36 per euro, setelah pada sesi sebelumnya sempat menguat hingga 179,435, level terkuatnya dalam hampir sembilan bulan. Pergerakan ini menunjukkan sebagian investor mulai mengambil keuntungan setelah reli tajam yen.
Analisis Newsmaker: USD/JPY berpotensi berkonsolidasi setelah volatilitas tinggi akibat intervensi. Area 158,00–160,00 menjadi resistance terdekat, sementara 155,20 menjadi support penting. Jika USD/JPY kembali menembus 160,00, pasar dapat mengantisipasi intervensi lanjutan. Sebaliknya, penurunan di bawah 155,20 dapat membuka jalan bagi penguatan yen menuju area 153,00. Namun, tanpa kenaikan bunga BoJ atau penurunan yield AS, penguatan yen berisiko sulit bertahan lama. (arl)
Sumber : Newsmaker.id