Konflik Iran Dorong Biaya Energi, Yen Tertekan Meski BOJ Diprediksi Hawkish!
Yen Jepang diperdagangkan di sekitar 159,5 per dolar AS pada Senin (6/04), bertahan dekat level terlemahnya sejak Juli 2024. Pelemahan yen terjadi saat pasar menilai eskalasi konflik Iran dan kenaikan biaya energi menjadi tekanan utama bagi mata uang Jepang.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengancam serangan ke pembangkit listrik dan infrastruktur sipil Iran mulai Selasa jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Teheran menolak ultimatum tersebut dan jalur pelayaran itu dilaporkan masih efektif tertutup, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dan kenaikan harga.
Lonjakan risiko energi ini membebani yen karena Jepang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya impor, sementara dolar cenderung mendapat dukungan saat ketidakpastian geopolitik meningkat. Pada saat yang sama, pasar juga menimbang efek lanjutan konflik terhadap inflasi global dan suku bunga, yang bisa menjaga permintaan terhadap aset berdenominasi dolar.
Di sisi kebijakan, ekspektasi pasar justru condong hawkish untuk Jepang, dengan peluang lebih dari 70% Bank of Japan menaikkan suku bunga bulan ini, dan lebih dari dua kenaikan tambahan diperkirakan hingga akhir tahun. Namun dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga ini belum mampu mengimbangi tekanan dari sentimen risiko dan faktor energi.
Pelaku pasar juga memantau potensi langkah stabilisasi kurs dari Tokyo setelah peringatan keras dari pejabat belakangan ini. Fokus jangka pendek tertuju pada perkembangan Selat Hormuz, pergerakan harga energi, sinyal komunikasi otoritas Jepang soal nilai tukar, serta keputusan dan panduan BOJ terkait arah normalisasi kebijakan. (asd)
Sumber: Newsmaker.id