Yen Melemah Saat Risiko Geopolitik Kembali Menguat
Yen Jepang kembali melemah setelah komentar terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal perang Iran memicu perubahan sentimen di pasar keuangan global. Dalam pidatonya, Trump memang mengatakan konflik tersebut “segera berakhir”, tetapi ia tidak memberi kepastian soal timeline gencatan senjata dan justru menegaskan operasi militer AS masih akan berlanjut dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Pesan yang campuran ini membuat pasar kembali mengurangi ekspektasi de-eskalasi cepat dan mendorong permintaan terhadap dolar AS.
Reuters melaporkan indeks dolar naik sekitar 0,3% ke 99,925 setelah pidato tersebut. Bersamaan dengan itu, euro dan pound masing-masing turun sekitar 0,3%, sementara mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga ikut tertekan sekitar 0,6%. Yen memang ikut melemah, meski masih bertahan sedikit di atas area yang selama ini dianggap pasar sebagai zona rawan intervensi otoritas Jepang.
Bagi pasar Jepang, pelemahan yen saat ini bukan lagi sepenuhnya dianggap kabar baik. Jika dulu yen yang lemah sering membantu eksportir, kondisi sekarang berbeda karena Jepang sangat bergantung pada impor energi. Ketika konflik Iran mendorong harga minyak naik dan yen melemah bersamaan, beban inflasi impor justru menjadi lebih berat. Pemerintah Jepang bahkan sudah menyebut pergerakan yen belakangan ini sebagai sesuatu yang bersifat “spekulatif” dan menegaskan kesiapan untuk merespons pergerakan yang dianggap berlebihan.
Tekanan terhadap yen juga membuat pasar kembali menyoroti langkah Bank of Japan. Gubernur BOJ Kazuo Ueda sebelumnya mengatakan bank sentral memantau pergerakan nilai tukar sebagai faktor yang bisa memengaruhi ekonomi dan inflasi, dan membuka ruang bahwa pelemahan yen yang berkelanjutan dapat menjadi alasan untuk pengetatan kebijakan lebih lanjut. Artinya, meski yen sedang melemah, pasar tetap harus memperhitungkan kemungkinan respons dari otoritas moneter Jepang dalam waktu dekat.
Secara keseluruhan, pelemahan yen kali ini mencerminkan satu hal utama: pasar belum benar-benar yakin konflik Iran akan segera selesai. Selama pernyataan Trump masih membuka ruang eskalasi dan risiko energi tetap tinggi, yen berpotensi tetap bergerak rapuh terhadap dolar, terutama jika pasar terus memburu aset yang dianggap lebih aman atau lebih likuid.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id