Yen Menguat Tajam, Ueda Buka Pintu Pengetatan Meski Minyak Naik
USD/JPY turun 1,25% pada Kamis dan kembali di bawah 158,00, menetap di sekitar 157,80, seiring penguatan Yen yang terjadi secara luas. Pergerakan ini membalikkan reli awal pekan yang sempat mendekati 160 dan menghapus sebagian besar kenaikan lima sesi sebelumnya, menegaskan pasar kembali sensitif pada sinyal bank sentral di tengah guncangan energi.
Pemicu utama datang dari Bank of Japan. BoJ mempertahankan suku bunga di 0,75% lewat voting 8-1, namun nada pernyataan dan konferensi pers Gubernur Kazuo Ueda dinilai hawkish. Ueda memperingatkan biaya minyak yang naik akibat konflik Timur Tengah dapat mendorong inflasi mendasar lebih tinggi, dan perusahaan bisa meneruskan kenaikan biaya lebih agresif karena upah dan harga sudah bergerak naik. Dissent juga berlanjut, dengan anggota dewan Takata kembali mendorong kenaikan 25 bps ke 1%, menjaga ekspektasi pasar bahwa opsi pengetatan belum tertutup.
Di sisi AS, The Fed menahan suku bunga di 3,50%–3,75%, masih memproyeksikan satu penurunan tahun ini, namun menandai risiko kenaikan inflasi dari perang Iran dan diperkuat oleh PPI Februari yang lebih panas dari perkiraan. Data AS Kamis juga campuran: klaim pengangguran awal turun lebih rendah dari konsensus, tetapi pasar tetap menangkap pesan utama bahwa risiko inflasi belum hilang. Kombinasi ini membuat dolar tidak runtuh, namun untuk sesi ini, “BoJ hawkish” lebih dominan sehingga USD/JPY turun.
Likuiditas juga berpotensi memengaruhi pergerakan jangka pendek. Jepang akan libur pada Jumat (Hari Vernal Equinox), sehingga pasar memperkirakan likuiditas menipis dan pasangan mata uang bisa bergerak dalam rentang yang lebar menjelang akhir pekan. Fokus berikutnya akan mengarah ke perkembangan upah shunto yang disebut mendekati 5,9% dan hasil putaran pertama Rengo pada 23 Maret, karena data upah adalah kunci untuk menilai apakah inflasi Jepang bisa bertahan tanpa dukungan sementara dari energi.
Dampak & yang perlu dipantau pelaku pasar
Energi dan inflasi Jepang: apakah minyak terus mendorong inflasi inti dan memperkuat alasan BoJ untuk tetap hawkish.
Sinyal upah (shunto/Rengo): konfirmasi upah yang tinggi bisa memperkuat ekspektasi pengetatan lanjutan.
Level psikologis USD/JPY: setelah gagal bertahan dekat 160, fokus pasar bergeser pada daya tahan pergerakan di bawah 158.
Data inflasi AS dan nada Fed: PPI yang panas membuat pasar sensitif terhadap rilis inflasi berikutnya dan perubahan pricing rate cut.
Likuiditas libur Jepang: pergerakan bisa lebih “cepat” dan melebar karena depth pasar menipis.(CP)
Sumber: Newsmaker.id