Yen Menguat, USD/JPY Turun di Tengah Eskalasi Konflik Iran
Pasangan USD/JPY bergerak melemah pada perdagangan awal Asia Kamis, turun ke sekitar 158,96, seiring yen Jepang menguat karena meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Sentimen risiko memburuk setelah Iran meluncurkan operasi yang disebut sebagai yang paling intens sejak awal perang. Teheran juga meningkatkan upaya untuk menghentikan lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur penting pengiriman energi global. Di saat yang sama, militer AS menolak permintaan untuk mengawal tanker atau kapal sipil melintasi selat tersebut sampai ancaman tembakan Iran mereda, sementara militer Israel menyatakan melakukan gelombang serangan skala luas yang menargetkan infrastruktur Hizbullah.
Kondisi ini mendorong pelaku pasar kembali ke mata uang yang dinilai defensif seperti yen. Pasar juga menilai setiap tanda memburuknya tensi antara Iran dengan negara-negara tetangga, AS, dan Israel berpotensi menambah tekanan pada USD/JPY dalam waktu dekat.
Dari sisi data, inflasi AS tetap sesuai ekspektasi. Consumer Price Index (CPI) AS naik 0,3% (month-on-month) pada Februari, sejalan perkiraan dan lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya 0,2%. Sementara itu, core CPI (di luar pangan dan energi) naik 0,2% pada Februari, melambat dari 0,3% sebelumnya, juga sesuai estimasi.
Pasar kini mengantisipasi The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan kebijakan 18 Maret. Fokus pelaku pasar bergeser dari rilis CPI ke kenaikan harga minyak yang berpotensi mendorong inflasi utama kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan.
Selain perkembangan geopolitik, perhatian pasar Kamis ini juga tertuju pada rilis Initial Jobless Claims AS, yang dapat memengaruhi arah dolar dan pergerakan USD/JPY.(asd)
Sumber: Newsmasker.id