Yen Lagi “Goyang” Jelang Pemilu Jepang
Pasangan USD/JPY menguat ke sekitar 155,85 pada awal sesi Asia Rabu, saat yen melemah di tengah transmisi politik di Jepang menjelang pemilu dadakan majelis rendah pada Minggu, 8 Februari.
Pasar memperkirakan volatilitas karena investor menilai dampak kebijakan fiskal dari Perdana Menteri Sanae Takaichi. Salah satu janji kampanyenya yang paling digembar-gemborkan adalah rencana menangguhkan konsumsi pajak 8% untuk makanan dan minuman selama dua tahun—yang memicu kekhawatiran soal pembiayaan dan defisit.
Isu pajak itu penting karena pasar khawatir: bila belanja/stimulus membesar tanpa sumber dana yang jelas, imbal hasil obligasi Jepang bisa naik dan yen bisa semakin tertekan. Oleh karena itu, pedagang cenderung “jual yen dulu” sambil menunggu arah politik setelah pemilu.
Di sisi lain, pasar juga tetap waspada terhadap potensi intervensi. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyebut Jepang akan terus berkoordinasi dengan otoritas AS sesuai pernyataan bersama sebelumnya, dan akan merespons bila diperlukan. Kekhawatiran intervensi biasanya bisa menopang yen dalam jangka pendek dan menahan laju kenaikan USD/JPY.
Dari AS, sentimen dolar ikut terbantu oleh perubahan ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Pemerintahan Donald Trump sudah menyatakan rencana menominasikan Kevin Warsh sebagai ketua The Fed berikutnya—dan pasar menilai arah kebijakan bisa condong ke pemangkasan suku bunga yang lebih pelan plus mendorong penurunan neraca keuangan.
Sementara itu, kabut data AS masih tebal karena shutdown parsial. Biro Statistik Tenaga Kerja menunda rilis laporan tenaga kerja Januari yang semula dijadwalkan hari Jumat, sehingga pelaku pasar kehilangan salah satu “kompas” utama untuk membaca arah suku bunga. Kombinasi pemilu Jepang + isu intervensi + data AS yang tertunda bikin USD/JPY rawan bergerak cepat—dan level 155,50 kini jadi area yang semakin diperhatikan trader.(asd)
Sumber : Newsmaker.id