Emas Mulai Bangkit, Tapi “Rem” Masih Banyak
Emas (XAU/USD) mulai menarik pembeli pada Selasa setelah jatuh tajam dua hari dan sempat menyentuh area $4.400—level terendah sejak 6 Januari. Pemulihan ini terbantu karena dolar AS melemah tipis dan menjauh dari puncak lebih dari sepekan yang tercapai pada Senin.
Namun, penguatan dolar berpotensi tidak mudah hilang. Penunjukan Kevin Warsh oleh Donald Trump sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya—ditambah data manufaktur AS yang solid—dipandang bisa membuat The Fed tetap hati-hati menurunkan suku bunga. Kombinasi ini cenderung jadi penahan laju emas.
Di sisi sentimen, pasar juga mulai masuk mode “lebih tenang”. Tanda de-eskalasi AS–Iran dan kabar kesepakatan dagang AS–India membuat risk appetite membaik, sehingga kebutuhan aset safe haven seperti emas bisa berkurang. Artinya, ruang kenaikan emas ada, tapi bisa cepat mentok kalau pasar merasa risiko global mereda.
Tekanan lain datang dari kebijakan margin. CME Group menaikkan persyaratan margin kontrak berjangka logam mulia, yang memicu likuidasi dua hari berturut-turut. Efeknya, emas sempat terseret lebih dalam, dan pasar kini cenderung lebih selektif untuk menambah posisi baru.
Dari sisi data, Institute for Supply Management melaporkan aktivitas pabrik AS kembali ekspansi: PMI manufaktur naik ke 52,6 dari 47,9. Angka ini memperkuat narasi ekonomi AS belum “dingin”, yang biasanya membuat ekspektasi pelonggaran moneter tidak seagresif sebelumnya—lagi-lagi jadi faktor pembatas untuk emas.
Ke depan, pelaku pasar akan memantau rilis JOLTS (lowongan kerja) pada Selasa, disusul data ADP dan PMI jasa ISM pada Rabu, plus komentar pejabat The Fed. Jika dolar kembali menguat, emas bisa kembali berat; tapi kalau dolar melemah dan volatilitas mereda, pemulihan emas berpeluang lanjut—meski pasar masih perlu bukti beli yang kuat untuk menyimpulkan fase koreksi sudah benar-benar selesai.(asd)
Sumber: Newsmaker.id