Emas “Napas Lagi” Setelah Crash, Buyer Balik Masuk
Emas masih mempertahankan penguatannya setelah sempat jatuh tajam dari rekor tertinggi. Setelah pembeli “buy the dip” masuk saat harga turun, tekanan jual mulai mereda dan pergerakan emas kembali lebih stabil.
Pada perdagangan awal, emas batangan berada di sekitar $4.950 per ons setelah sempat melonjak lebih dari 6% pada sesi sebelumnya. Dorongannya datang dari suasana pasar yang kembali risk-on dan dolar AS melemah. Perak juga cenderung tenang.
Meski begitu, posisi emas masih sekitar 12% di bawah rekor tertinggi yang tercetak 29 Januari, namun tetap naik hampir 15% sepanjang tahun ini. Ini memberi sinyal: reli memang sempat patah, tapi minat beli belum benar-benar hilang.
Menurut Daniel Ghali dari TD Securities, gelombang “forced selling” di logam mulia kemungkinan sudah mencapai fase akhir. Namun volatilitas ekstrem sepekan terakhir bisa bikin investor ritel menahan diri dulu—yang artinya, salah satu sumber demand besar sementara “menghilang” dari pasar.
Latar belakangnya, reli logam mulia bulan lalu dipicu kombinasi: dorongan spekulatif, ketegangan geopolitik, dan kekhawatiran soal independensi Federal Reserve. Tapi reli itu mendadak berhenti akhir pekan lalu: perak mencetak penurunan harian terbesar, sementara emas mengalami penurunan terdalam sejak 2013—setelah banyak peringatan bahwa kenaikan sudah “kebanyakan” dan terlalu cepat.
Ke depan, Bank of America menilai volatilitas logam mulia masih akan tinggi, meski sejumlah bank percaya emas bisa pulih. Deutsche Bank bahkan tetap pada proyeksi emas menuju $6.000/ons. Pada update terakhir, emas nyaris datar di $4.944,66/ons (pukul 07:49 di Singapore), perak turun 0,8% ke $84,48, sementara Bloomberg Dollar Spot Index relatif datar.(asd)
Sumber: Newsmaker.id