Detik-Detik Panas di Laut Arab: Drone Iran Dihajar AS, Dunia Kaget
Pada Selasa, 3 Februari 2026, militer Amerika Serikat melaporkan telah menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di wilayah Laut Arab. Insiden ini terjadi saat drone tersebut dianggap mendekat dengan “niat yang tidak jelas,” sehingga AS menyebut tindakannya sebagai langkah bela diri.
Menurut laporan, drone yang ditembak jatuh disebut sebagai Shahed-139, dan penembakan dilakukan oleh jet tempur dari kapal induk. AS menyatakan tidak ada korban maupun kerusakan pada kapal induk akibat kejadian tersebut.
Di saat yang hampir bersamaan, ketegangan juga muncul di jalur pelayaran paling vital dunia: Selat Hormuz. Sejumlah gunboats Iran dilaporkan mendekati tanker berbendera AS (Stena Imperative) di perairan utara Oman. Kapal tanker itu disebut tetap melaju dan kemudian mendapat pengawalan.
Laporan dari sumber maritim dan konsultan keamanan menyebut kapal-kapal kecil bersenjata itu sempat memberi instruksi agar tanker berhenti untuk pemeriksaan, namun tanker mempercepat laju dan tidak masuk ke perairan teritorial Iran. Versi Iran berbeda: media setempat mengklaim ada kapal yang sempat masuk perairan Iran tanpa izin lalu keluar setelah diperingatkan.
Rangkaian kejadian ini cepat dibaca pasar sebagai sinyal bahwa tensi AS–Iran masih rawan “kebakaran kecil” yang bisa membesar kapan saja—terutama karena lokasinya berada di area yang berkaitan langsung dengan keamanan jalur energi dan aktivitas militer. Karena itu, pelaku pasar biasanya langsung memasukkan faktor risk premium ke pergerakan harga aset.
Situasi ini juga muncul di tengah wacana pembicaraan/negosiasi antara AS dan Iran yang sebelumnya sempat memberi harapan de-eskalasi. Namun, insiden drone dan gangguan di laut membuat narasinya kembali “abu-abu”: peluang diplomasi masih ada, tapi risiko salah paham di lapangan juga naik.
Dampak ke market: untuk minyak (oil), headline seperti ini biasanya mendorong harga naik karena pasar menambah premi risiko atas potensi gangguan pasokan/pelayaran di Selat Hormuz; contoh terbaru, laporan insiden ini ikut mengangkat Brent dan WTI sekitar 2% pada perdagangan Selasa. Sementara untuk emas (gold), tensi geopolitik cenderung memicu minat safe-haven sehingga harga mendapat dukungan; tapi pergerakannya tetap bisa “nahan” kalau dolar AS atau yield obligasi sedang menguat.(asd)
Sumber : Newsmaker.id