Alarm Timur Tengah: Oil Naik
Harga minyak menguat tajam di perdagangan Asia, Rabu (4 Feb 2026), setelah pasar merespons dua katalis sekaligus: tensi AS–Iran yang memanas dan sinyal pasokan AS yang mengetat karena data persediaan.
Kontrak Brent April naik sekitar 1,2% ke $68,15/barel, sementara WTI menguat 1,4% ke $63,69/barel pada jam perdagangan yang dilaporkan. Kenaikan ini mencerminkan pasar yang kembali memasang “premi risiko” untuk kawasan Timur Tengah.
Pemicu utama datang dari laporan bahwa militer AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab. Insiden ini langsung mengangkat kekhawatiran eskalasi, karena melibatkan aset militer besar di jalur strategis.
Di saat hampir bersamaan, laporan maritim menyebut kapal cepat (gunboats) Iran terlihat mendekati tanker berbendera AS di Selat Hormuz—jalur kunci ekspor energi global. Situasi ini menambah kekhawatiran soal keamanan pelayaran dan potensi gangguan distribusi minyak.
Yang bikin pasar makin tegang: rangkaian insiden itu terjadi menjelang jadwal pembicaraan AS–Iran pekan ini. Namun muncul sinyal tarik-menarik soal format dan ruang lingkup perundingan—yang membuat pelaku pasar ragu apakah dialognya akan berjalan mulus atau justru makin alot.
Selain faktor geopolitik, minyak juga ditopang data industri dari American Petroleum Institute (API): stok minyak AS dilaporkan turun 11,1 juta barel untuk pekan yang berakhir 30 Januari, berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan stok justru naik 0,7 juta barel. Penurunan besar ini dikaitkan dengan cuaca dingin ekstrem yang mengganggu produksi dan aliran pasokan.
Kombinasi “risiko Timur Tengah + pasokan AS mengetat” biasanya jadi resep klasik penguat minyak: market menambah premi risiko untuk kemungkinan gangguan suplai, sambil menimbang data inventori yang mendukung narasi supply lebih ketat. Kalau headline Hormuz bertambah panas, minyak berpotensi tetap sensitif dan mudah “spike” dalam waktu singkat.(asd)
Sumber : Newsmaker.id