Dolar Reli Tajam, Yield dan Minyak Dorong Permintaan Safe Haven
Dolar AS menguat untuk hari kelima berturut-turut pada Jumat (15/5) di tengah aksi jual luas di pasar obligasi global dan kenaikan harga minyak yang memperkuat kekhawatiran inflasi. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,4% dan mencatat kenaikan mingguan lebih dari 1,2%, menjadi reli pekanan terbaik sejak 6 Maret.
Penguatan dolar terjadi saat imbal hasil AS naik tajam. Yield Treasury 2 tahun naik 6 bps ke 4,077%, tertinggi dalam lebih dari setahun, sementara yield 10 tahun melonjak lebih dari 10 bps pada Jumat. Di sisi energi, Brent naik setinggi 3,8% dan sempat mendekati US$110 per barel sebelum memangkas kenaikan, memperbesar kekhawatiran bahwa pasokan dari Timur Tengah tidak akan cepat normal.
Pergerakan tersebut menekan mata uang G10 secara menyeluruh. Semua mata uang G10 melemah terhadap dolar pada Jumat; yen menjadi yang paling “tahan”, sementara dolar Selandia Baru dan dolar Australia termasuk yang paling lemah. USD/JPY naik untuk hari kelima dan sempat menyentuh 158,79, level tertinggi bulan ini.
Di Eropa, GBP/USD turun hingga 0,7% ke 1,3315, terendah sejak 8 April, dengan sterling tercatat turun 2,3% sepanjang pekan, penurunan mingguan terbesar sejak November 2024. Gilts tertekan setelah dinamika politik Inggris meningkat, menyusul kabar Wali Kota Manchester Andy Burnham mendapat jalur untuk berpotensi menantang Keir Starmer, memunculkan kembali kekhawatiran arah fiskal yang lebih longgar.
EUR/USD turun hingga 0,45% ke 1,1617, juga terendah sejak 8 April. Di sisi positioning, data CFTC yang dihimpun Bloomberg menunjukkan trader FX spekulatif memangkas posisi bullish dolar menjadi sekitar US$5 miliar pada pekan hingga 12 Mei dari US$7,6 miliar pekan sebelumnya, namun arus permintaan aset AS dan peran dolar sebagai haven masih membuat greenback menarik dalam jangka pendek. RBC Capital Markets merekomendasikan posisi long dolar terhadap euro dan franc Swiss.
Ke depan, pasar akan memantau apakah reli minyak bertahan, arah yield AS setelah aksi jual obligasi, risiko kebijakan BOJ jelang ekspektasi kenaikan Juni (termasuk rekomendasi Societe Generale untuk keluar dari carry trade yen), serta perkembangan politik Inggris yang memengaruhi gilts dan sterling.(arl)*
Sumber: Newsmaker.id